Saudi-Kanada Kolaborasi AI: 50 MW Compute untuk Model Berdaulat
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan AI Arab Saudi, Humain, menyediakan 50 MW kapasitas komputasi khusus untuk model generasi terbaru Cohere, menandai langkah besar dalam kemitraan teknologi lintas benua.
- Kesepakatan ini diumumkan saat kunjungan Perdana Menteri Kanada ke Riyadh, mencerminkan upaya Ottawa memperkuat hubungan investasi dengan negara-negara Teluk.
- Fokus pada pengembangan model AI berdaulat, termasuk bahasa Arab, membuka peluang bagi Indonesia untuk menjajaki kerja sama serupa guna memperkuat kedaulatan digital nasional.

Perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Arab Saudi, Humain, dan perusahaan rintisan AI Kanada, Cohere, resmi menjalin kerja sama strategis di bidang komputasi AI dan pengembangan model berdaulat. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara Teluk semakin serius membangun infrastruktur AI mandiri di tengah persaingan global yang kian ketat.
Dalam perjanjian yang diumumkan pada Kamis (10/7) tersebut, Humain berkomitmen mengalokasikan setidaknya 50 megawatt (MW) kapasitas komputasi AI khusus untuk mendukung pengembangan model fondasi generasi berikutnya milik Cohere. Infrastruktur ini dirancang untuk menangani beban kerja berat seperti riset dan pengembangan model, serta dijadwalkan beroperasi penuh pada kuartal keempat 2027 dengan opsi perluasan dalam lima tahun ke depan.
Kemitraan ini diumumkan bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, ke Arab Saudi. Langkah tersebut menandai upaya Ottawa untuk memperluas hubungan investasi dengan negara-negara Teluk yang kaya akan cadangan energi dan tengah gencar melakukan diversifikasi ekonomi. Bagi Kanada, kerja sama ini membuka akses ke pendanaan dan pasar baru di kawasan yang haus akan solusi AI.
Selain komputasi, kedua perusahaan juga akan berkolaborasi dalam pengembangan solusi AI perusahaan dan model AI berdaulat (sovereign AI). Konsep sovereign AI merujuk pada model yang dikembangkan secara mandiri oleh suatu negara atau entitas, sehingga data dan algoritma tetap berada di bawah kendali lokal โ isu yang krusial bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada raksasa teknologi asing. Dalam kasus ini, model akan diadaptasi untuk bahasa Arab dan domain-domain spesifik, membuka peluang bagi aplikasi di sektor pemerintahan, energi, dan layanan publik di kawasan Timur Tengah.
Bagi Indonesia, kerja sama ini menawarkan pelajaran berharga. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan basis pengguna internet yang masif, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan model AI berbahasa Indonesia dan berbasis kearifan lokal. Namun, tantangan infrastruktur komputasi dan investasi masih menjadi hambatan utama. Langkah Arab Saudi yang berani mengalokasikan sumber daya besar untuk AI โ termasuk melalui Humain yang didukung PIF โ menunjukkan bahwa kedaulatan digital membutuhkan komitmen fiskal dan kemitraan strategis jangka panjang.
Ke depannya, kolaborasi Humain-Cohere diprediksi akan memicu persaingan baru di kawasan Teluk, di mana negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Qatar juga gencar membangun pusat data dan ekosistem AI. Pertanyaan yang muncul: akankah Indonesia mampu meniru langkah serupa dengan menggandeng mitra global untuk membangun infrastruktur AI berdaulat, atau justru akan terus bergantung pada platform asing?



