Pogacar Kian Kokoh di Puncak Tour de France Usai Guncang Tourmalet
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar memenangi etape 6 Tour de France 2025 dengan keunggulan 2 menit 38 detik atas Jonas Vingegaard, merebut kembali jersey kuning.
- Pembalap Slovenia itu kini unggul 2 menit 42 detik di klasemen umum, memperkuat peluangnya menyamai rekor lima gelar juara.
- Torstein Traeen, pemimpin klasemen sebelumnya, terjatuh di Tourmalet dan kehilangan lebih dari 22 menit, mengakhiri mimpi singkatnya.

Tadej Pogacar mengirim sinyal peringatan dini di Tour de France 2025. Pembalap Slovenia itu menaklukkan etape 6 yang berat di Pyrenees, merebut kembali jersey kuning, dan memperlebar jarak dengan rival utamanya, Jonas Vingegaard, dalam perburuan gelar juara kelima yang akan menyamai rekor legenda balap sepeda.
Di atas tanjakan ikonik Col du Tourmalet, Pogacar melancarkan akselerasi lima kilometer sebelum puncak. Ia tak hanya meninggalkan Vingegaard, tetapi juga menghancurkan harapan Remco Evenepoel dan Paul Seixas yang tertinggal lebih dari satu menit. Garis finis di Gavarnie-Gedre menunjukkan keunggulan 2 menit 38 detik atas Vingegaard—sebuah margin yang langka di etape pegunungan pertama.
Kemenangan ini membuat Pogacar memimpin klasemen umum dengan selisih 2 menit 42 detik atas Vingegaard. Rekan setimnya, Isaac del Toro, duduk di posisi ketiga dengan defisit 3 menit 27 detik. Bagi Vingegaard, yang musim lalu memenangi Vuelta dan Giro setelah pulih dari cedera paru-paru akibat kecelakaan, hasil ini menjadi pukulan telak. Sejak mengalahkan Pogacar di Tour 2023, ia belum pernah lagi mampu menandingi kecepatan sang juara bertahan.
Di sisi lain, drama mewarnai perjalanan Torstein Traeen. Pembalap Norwegia yang mengejutkan dunia dengan merebut jersey kuning di etape 4 harus mengalami mimpi buruk di Tourmalet. Saat menuruni tikungan tajam, ia gagal mengerem dan terjatuh keras, merobek seragamnya dan memar di bahu kanan. Meski sempat terhuyung, ia melanjutkan balapan setelah menjalani protokol gegar otak, tetapi finis di peringkat 51 dan kini tertinggal lebih dari 22 menit di klasemen. "Saya harap dia baik-baik saja dan bisa pulih," ujar Pogacar menanggapi insiden tersebut.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, dominasi Pogacar mengingatkan pada era keemasan Miguel Indurain di tahun 1990-an. Namun, persaingan ketat antara Pogacar dan Vingegaard—yang sempat memicu perdebatan sengit di forum daring Tanah Air—kini tampak semakin timpang. Analis balap sepeda menilai Vingegaard perlu strategi agresif di etape pegunungan Alpen pekan depan jika ingin membalikkan keadaan. Sementara itu, etape 7 yang datar menuju Bordeaux diprediksi menjadi panggung para sprinter, termasuk pembalap Asia yang mungkin menarik perhatian publik Indonesia.
Pertanyaan besarnya: adakah yang mampu menghentikan laju Pogacar menuju rekor kelima? Ataukah Tour de France 2025 akan menjadi panggung tunggal sang maestro Slovenia?



