PRDL Debut Perdana di BEI: Saham Grup Prodia Langsung Melesat 35%
Baca dalam 60 detik
- PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 522,9 juta saham baru pada harga Rp120 per saham, meraup dana segar Rp62,75 miliar.
- Pada hari pertama perdagangan, saham PRDL melonjak 35% ke level Rp162, mencerminkan antusiasme investor terhadap prospek bisnis alat diagnostik di tengah kebutuhan fasilitas kesehatan primer yang belum merata.
- Sebagian besar dana IPO, sekitar Rp35,67 miliar, akan digunakan untuk melunasi pinjaman ke BCA dan Panin Bank, sementara sisanya mendukung ekspansi produksi di Cikarang.

PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), emiten alat kesehatan diagnostik di bawah Grup Prodia, mencetak lonjakan harga saham hingga 35% pada sesi perdana perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026). Harga saham PRDL ditutup di level Rp162 per saham, melesat dari harga penawaran awal Rp120, setelah investor merespons positif prospek bisnis perusahaan di sektor kesehatan primer yang masih memiliki celah besar.
Dalam aksi korporasi ini, PRDL melepas sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Total dana segar yang diraih mencapai Rp62,75 miliar. Dana tersebut, menurut manajemen, akan dialokasikan untuk dua keperluan utama: melunasi pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin Bank) sebesar Rp35,67 miliar, serta sisanya untuk mendukung pengembangan kapasitas produksi dan penguatan jaringan distribusi.
Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja, mengungkapkan bahwa perusahaan melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau di Indonesia. "Dengan kualitas produk yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas, serta nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi.
PRDL bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan terkait diagnosis medis atau in vitro diagnostics (IVD). Perusahaan memiliki fasilitas produksi di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang, Jawa Barat. Produk-produknya mencakup berbagai perangkat untuk diagnosis laboratorium, yang menjadi tulang punggung deteksi dini penyakit di rumah sakit dan klinik.
Kinerja keuangan PRDL dalam tiga tahun terakhir menunjukkan volatilitas. Laba bersih perusahaan tercatat Rp35,8 miliar pada 2023, kemudian merosot tajam menjadi Rp10 miliar pada 2024, sebelum kembali pulih menjadi sekitar Rp17 miliar pada 2025. Fluktuasi ini mencerminkan tantangan di sektor alat kesehatan, termasuk tekanan harga dan perubahan regulasi pengadaan. Namun, dengan dana segar dari IPO dan rencana ekspansi, manajemen optimistis dapat memperbaiki tren laba ke depan.
Bagi investor Indonesia, debut PRDL menjadi sinyal positif bagi subsektor alat kesehatan dalam negeri. Pemerintah terus mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan TKDN, yang memberikan keunggulan kompetitif bagi emiten seperti PRDL. Dengan jaringan distribusi yang sudah mapan dan dukungan Grup Prodia yang memiliki reputasi di bidang diagnostik, PRDL berpotensi menjadi pemain kunci dalam program prioritas kesehatan nasional, termasuk deteksi dini penyakit tidak menular.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat PRDL dapat mengonversi dana IPO menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan. Dengan persaingan dari pemain global dan domestik, serta ketergantungan pada pengadaan pemerintah, perusahaan perlu membuktikan bahwa model bisnisnya mampu bertahan dalam siklus ekonomi yang menantang.



