The Rock Bantah Kritik: Live-Action Moana Tak Terlalu Cepat
Baca dalam 60 detik
- Dwayne Johnson membantah anggapan bahwa remake live-action Moana dirilis terlalu cepat setelah versi animasi 2016.
- Johnson dan sutradara Thomas Kail menilai jeda satu dekade sudah cukup untuk menghadirkan cerita klasik ke generasi baru.
- Wig panjang Johnson sebagai Maui menjadi perbincangan, namun tim produksi menegaskan rambut adalah simbol kekuatan karakter.

Dwayne 'The Rock' Johnson menepis kritik yang menyebut bahwa film live-action Moana dirilis terlalu cepat setelah versi animasinya pada 2016. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter di pemutaran perdana film di Los Angeles, Selasa (7/7/26), aktor berusia 54 tahun itu menegaskan bahwa ia tidak pernah setuju dengan anggapan perlunya menunggu dua atau tiga dekade untuk membuat ulang sebuah cerita.
“Sejujurnya, saya tidak pernah percaya pada gagasan bahwa Anda harus menunggu 20 tahun atau 30 tahun. Itu terlalu cepat,” ujar Johnson. Menurutnya, tema dan nilai-nilai dalam Moana animasi dapat diterjemahkan dengan baik ke dalam medium live-action, terutama ketika penonton melihat karakter manusia sungguhan mengalami perjalanan yang sama. Ia menambahkan bahwa pendapatnya bukan karena bias sebagai pemain, melainkan keyakinan bahwa cerita ini relevan lintas generasi.
Sutradara Thomas Kail, yang debut film fiturnya lewat proyek ini, sepakat bahwa jeda sembilan tahun sudah memadai. “Anak-anak berusia tujuh tahun yang menonton saat itu kini berusia 17 tahun; yang berusia 10 tahun kini 20 tahun. Itu perubahan besar dalam hidup mereka,” kata Kail. Ia mencontohkan antusiasme penonton terhadap Moana 2 sebagai bukti bahwa publik ingin kembali bertemu karakter favorit di layar lebar. Kail juga menyoroti kebiasaan teater yang kerap menghadirkan kembali cerita klasik untuk audiens baru.
Salah satu topik yang mencuri perhatian adalah wig panjang berombak yang dikenakan Johnson, kontras dengan penampilan botaknya yang ikonik. Johnson mengaku geli dengan reaksi publik. “Saat pertama kali melihat cuplikan, Anda hanya melihat melalui lubang kunci. Saya tahu kami membuat film yang bagus, beri waktu,” ujarnya. Ia memahami kejutan penonton melihat aktor botak tiba-tiba berambut panjang.
Kail mengungkapkan bahwa dalam versi animasi, Maui awalnya direncanakan botak. Namun, konsultan Pasifik menekankan pentingnya rambut panjang sebagai simbol kekuatan. “Rambut Maui adalah kekuatannya. Tidak ada Maui tanpa rambut,” tegas Kail. Ia pun bercanda bahwa wig tersebut tidak akan terasa aneh setelah penonton melihatnya dalam konteks keseluruhan film.
Bagi penonton Indonesia, film Moana memiliki tempat khusus karena latar budaya Pasifik yang dekat dengan kawasan Nusantara. Kehadiran live-action ini bisa menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal mitologi Polinesia, sekaligus menikmati teknologi sinematografi terkini. Pertanyaannya, akankah Disney menghadirkan unsur lokal Indonesia dalam promosi atau adaptasi serupa di masa depan? Dengan tren remake yang terus berlanjut, keputusan Johnson dan Kail membuka diskusi tentang kapan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali cerita klasik.



