Dua Dekade Piala Dunia 2006: Dari Lapangan Hijau ke Bangku Pelatih dan Penjara
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh dari 23 pemain Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006 kini menjadi pelatih kepala, sementara lainnya berkarir di televisi atau asisten pelatih.
- Gianluigi Buffon dan Francesco Totti masih menganggur, meski Totti dikaitkan dengan posisi direktur di Roma.
- Satu anggota skuat Italia 2006 divonis dua tahun penjara, mencerminkan beragam nasib pasca-pensiun.

Dua puluh tahun sudah berlalu sejak malam bersejarah di Berlin ketika Italia mengangkat trofi Piala Dunia keempatnya setelah menaklukkan Prancis lewat adu penalti. Namun, perjalanan para pahlawan malam itu tak berhenti di lapangan hijau. Kini, sebagian besar dari mereka justru lebih sering terlihat di pinggir lapangan—sebagai pelatih, komentator, atau bahkan di balik jeruji besi.
Dari 23 pemain yang dibawa Marcello Lippi ke Jerman, sepuluh di antaranya telah beralih profesi menjadi pelatih kepala. Nama-nama seperti Fabio Cannavaro, Gennaro Gattuso, dan Andrea Pirlo kini lebih dikenal sebagai arsitek taktik ketimbang eksekutor di lapangan. Cannavaro, yang kala itu menjadi kapten dan peraih Ballon d'Or, sempat menangani klub-klub seperti Guangzhou Evergrande dan tim nasional China. Gattuso, dengan gaya khasnya yang garang, melatih AC Milan, Napoli, dan kini di Fiorentina. Sementara Pirlo, meski hanya setahun menukangi Juventus, tetap menjadi figur yang disegani.
Tak sedikit pula yang memilih jalur komentator televisi. Alessandro Del Piero, Christian Vieri, dan Marco Materazzi kerap muncul di studio-studio olahraga Italia dan internasional. Materazzi, yang mencetak gol penyeimbang di final 2006 dan terlibat insiden kepala dengan Zinedine Zidane, justru menjadi salah satu analis paling vokal. Namun, ada satu nama yang menorehkan kisah kelam: mantan bek sayap Gianluca Zambrotta? Bukan. Justru seorang pemain yang tak banyak disebut, yakni—menurut sumber—satu dari skuat tersebut divonis dua tahun penjara atas kasus yang tak diungkap detailnya.
Dua nama besar justru masih menganggur: Gianluigi Buffon, kiper legendaris yang baru saja pensiun dari perannya sebagai delegation chief tim nasional Italia, dan Francesco Totti, ikon Roma yang tak kunjung mendapatkan posisi di klub yang membesarkannya. Totti, yang sempat menjadi direktur teknis Roma pada 2017-2019, kini terus dikaitkan dengan kemungkinan kembali ke klub ibu kota tersebut. Namun, hingga kini belum ada kepastian.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah para pemain Italia 2006 ini mengingatkan pada perjalanan karir pesepak bola Tanah Air yang juga bertransisi menjadi pelatih atau pengamat. Namun, perbedaan mencolok terletak pada skala dan eksposur. Di Italia, sepak bola adalah industri raksasa dengan peluang karir pasca-pensiun yang lebih terstruktur. Sementara di Indonesia, banyak mantan pemain yang kesulitan mendapatkan peran setara, meski beberapa seperti Indra Sjafri dan Bima Sakti berhasil meniti karir kepelatihan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah generasi emas Italia 2006 mampu melahirkan generasi pelatih yang sukses seperti halnya mereka di lapangan? Atau, akankah mereka justru menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu yang tak terulang? Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Italia—yang gagal lolos ke dua edisi terakhir—tentu berharap regenerasi kepelatihan ini bisa membawa kembali kejayaan.



