Pemakaman Khamenei di Tengah Serangan Balik AS: Eskalasi Baru di Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dimakamkan di Mashhad setelah prosesi multi-hari yang dihadiri jutaan pelayat.
- Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, mengancam gencatan senjata yang rapuh.
- Ketidakpastian suksesi kepemimpinan Iran, dengan putra Khamenei, Mojtaba, yang belum muncul ke publik sejak insiden yang menewaskan ayahnya.

Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada Februari lalu akhirnya digelar di kota suci Mashhad, Kamis (9/7/2026), di tengah gelombang serangan baru Amerika Serikat yang mengancam stabilitas kawasan. Prosesi pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari ini menjadi panggung bagi Iran untuk menunjukkan kekuatan dan persatuan, namun di saat yang sama ketegangan dengan Washington kembali memuncak.
Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, tewas pada usia 86 tahun bersama sejumlah anggota keluarga dan pejabat tinggi dalam serangan Israel pada 28 Februari. Jenazahnya disemayamkan di Teheran selama tiga hari, kemudian dibawa ke kota religius Qom, sebelum akhirnya melewati kota suci Najaf dan Karbala di Irak. Rangkaian prosesi ini dihadiri jutaan orang, mencerminkan pengaruh besar Khamenei di kalangan Syiah.
Namun, di hari terakhir pemakaman, militer AS melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan Iran di sepanjang pantai sebagai respons atas serangan Teheran terhadap tiga kapal di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan gencatan senjata dengan Iran bubar, memperingatkan akan ada konsekuensi yang lebih berat jika Iran terus mengganggu jalur pelayaran vital tersebut. Langkah ini menandai eskalasi signifikan setelah beberapa pekan gencatan senjata yang rapuh.
Kepala staf Khamenei, Mohammad Mohammadi-Golpaygani, mengungkapkan bahwa almarhum sebelumnya menyampaikan keinginan untuk dimakamkan di Mashhad, tepatnya di Kompleks Makam Imam Rezaโtempat ibadah paling dihormati di Iran. Di kompleks yang sama, sejumlah tokoh besar seperti mantan shah Iran dan mantan presiden Ebrahim Raisi juga dimakamkan. Gubernur Mashhad, Hassan Hosseini, memperkirakan hingga 15 juta orang akan hadir dalam pemakaman tersebut, meskipun jadwal sempat mundur karena prosesi di Irak molor.
Salah satu sorotan utama adalah ketidakhadiran putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut sebagai penerus. Mojtaba dikabarkan terluka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya dan belum muncul di depan publik sejak peristiwa itu. Analis menilai situasi ini menimbulkan ketidakpastian mengenai suksesi kepemimpinan di Iran, terutama di tengah tekanan eksternal dan gejolak internal pasca-pemakaman.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini berpotensi mempengaruhi harga minyak dan stabilitas pasokan energi, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi ekspor minyak dunia. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini karena dapat berdampak pada harga BBM domestik dan nilai tukar rupiah. Selain itu, ketegangan antara Iran dan AS juga berisiko memicu gelombang pengungsi baru yang dapat mempengaruhi stabilitas kawasan Asia.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah gencatan senjata yang rapuh ini bertahan, atau justru berubah menjadi konflik terbuka yang lebih luas? Dengan suksesi kepemimpinan Iran yang belum jelas dan sikap AS yang semakin agresif, Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian.



