Sarah Storey Pensiun, 19 Medali Emas Paralimpiade Tutup Karier
Baca dalam 60 detik
- Atlet Paralimpiade paling sukses asal Inggris, Sarah Storey, mengakhiri 35 tahun karier internasionalnya dengan koleksi 30 medali dari sembilan edisi Paralimpiade.
- Keputusan pensiun diambil bukan karena faktor fisik, melainkan keinginan untuk berkontribusi lebih luas dalam pengembangan olahraga disabilitas di luar arena kompetisi.
- Storey membatalkan ambisi tampil di Los Angeles 2028, meski secara fisik ia yakin masih mampu mempertahankan gelar yang diraih di Paris 2024.

Sarah Storey, atlet Paralimpiade paling berprestasi dalam sejarah Inggris, resmi mengumumkan pensiun dari kompetisi internasional pada Kamis lalu. Keputusan ini sekaligus mengubur harapan untuk tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028.
Perempuan berusia 48 tahun itu mengoleksi total 30 medali Paralimpiade dari sembilan edisi, menjadikannya atlet Paralimpiade Inggris dengan raihan terbanyak. Kariernya dimulai sebagai perenang sebelum beralih ke balap sepeda, dengan torehan lima medali emas di kolam renang dan 14 emas tambahan di atas sepeda.
Dalam pernyataan resmi, Storey mengaku bersyukur telah menjalani 35 tahun sebagai atlet internasional. โSaya benar-benar tidak percaya bahwa mimpi masa kecil untuk menjadi atlet selama mungkin telah membawa saya ke sembilan Paralimpiade dan kesempatan di begitu banyak cabang olahraga,โ ujarnya.
Yang menarik, keputusan pensiun ini tidak didorong oleh keterbatasan fisik. Storey dengan tegas menyatakan bahwa secara fisik ia yakin masih bisa berada di garis start Los Angeles dan mempertahankan dua gelar yang diraih di Paris 2024. Namun, ia memilih langkah lain. โSaya percaya saya sekarang dapat menjadi pengaruh yang lebih positif dengan memanfaatkan peran dan peluang baru yang memungkinkan saya berjuang untuk olahraga disabilitas dan liputan yang layak diterimanya,โ tambahnya.
Keputusan Storey untuk pensiun di usia 48 tahun menjadi pengingat bahwa atlet elite pun memiliki batas waktu, meski kemampuan fisik masih prima. Langkah ini juga membuka ruang bagi generasi baru atlet disabilitas Inggris untuk tampil di panggung tertinggi. Di Indonesia, kisah Storey bisa menjadi inspirasi bagi atlet disabilitas tanah air yang masih berjuang mendapatkan perhatian dan dukungan setara. Dengan minimnya liputan olahraga disabilitas di media nasional, perjuangan Storey untuk meningkatkan eksposur cabang ini relevan dengan kondisi serupa di Indonesia.
Storey memulai debut Paralimpiade pada 1992 di Barcelona sebagai perenang remaja. Tiga dekade kemudian, ia menjadi simbol ketangguhan dan dedikasi. Namun, kini ia memilih untuk mengalihkan fokus pada advokasi dan pengembangan olahraga disabilitas dari sisi non-kompetitif. Pertanyaan besarnya: akankah atlet-atlet muda mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Storey, dan apakah olahraga disabilitas akan mendapat sorotan yang layak tanpa sosok sebesar dirinya?



