ExxonMobil Kembali Pengeboran Laut Dalam Nigeria, Targetkan Tambahan 40.000 Barel per Hari
Baca dalam 60 detik
- ExxonMobil melalui afiliasinya ESSO memulai proyek Usan Infill di lepas pantai Nigeria, diperkirakan menambah produksi 40.000 barel per hari dan menghasilkan pendapatan US$1,2 miliar dalam empat tahun.
- Proyek ini menandai kembalinya ESSO ke pengeboran laut dalam setelah hampir satu dekade, didukung perpanjangan sewa Blok OML 138 selama 20 tahun pada 2022.
- Investasi senilai lebih dari US$300 juta dari mitra ini menjadi sinyal positif bagi sektor hulu migas Nigeria yang sempat lesu, sekaligus membuka peluang bagi investor global termasuk dari Indonesia.

ExxonMobil, melalui afiliasinya ESSO Exploration and Production Nigeria, memulai proyek Usan Infill di Blok OML 138 yang diperkirakan mampu menambah produksi minyak mentah Nigeria sebesar 40.000 barel per hari dan menyumbang pendapatan hingga US$1,2 miliar dalam empat tahun ke depan. Langkah ini menjadi sinyal kebangkitan pengeboran laut dalam setelah hampir satu dekade vakum.
Managing Director ESSO Nigeria, Jagir Baxi, mengungkapkan dalam ajang Nigeria Oil and Gas Energy Week di Abuja bahwa proyek senilai lebih dari US$1 miliar ini dirancang sebagai investasi siklus pendek. Produksi perdana ditargetkan dalam enam bulan setelah eksekusi lepas pantai, dengan puncak produksi 40.000 barel per hari dalam 18 bulan. โInvestasi ini akan membuka sekitar 40.000 barel per hari produksi minyak laut dalam baru,โ ujar Baxi.
Proyek ini memanfaatkan teknologi pengeboran canggih, termasuk sumur jangkauan terpanjang yang pernah dibor di Lapangan Usan, mencapai hingga empat kilometer untuk mengakses cadangan yang belum tergarap. Selain itu, beberapa sumur akan menggunakan teknologi pengeboran cerdas yang mampu menargetkan beberapa zona minyak dari satu sumur, sehingga memaksimalkan perolehan sambil menekan biaya pengembangan.
Kepastian investasi ini tidak lepas dari perpanjangan sewa Blok OML 138 pada 2022 untuk 20 tahun ke depan. Sejak berproduksi 14 tahun lalu, Lapangan Usan telah menghasilkan lebih dari 350 juta barel minyak mentah dengan total investasi mitra melebihi US$16 miliar. Selama periode tersebut, sekitar US$4,6 miliar telah disetorkan ke kas negara. Baxi menambahkan bahwa proyek infill ini diharapkan menambah US$1,2 miliar lagi dalam empat tahun mendatang.
Kepala Eksekutif Komisi Regulasi Hulu Minyak dan Gas Nigeria (NUPRC), Oritsemeyiwa Eyesan, menyebut investasi ini sebagai momen penting bagi sektor hulu Nigeria. โKembalinya pengeboran setelah 2016 menandakan potensi dan nilai baru di wilayah laut dalam kami,โ katanya. Eyesan juga menekankan pentingnya menggabungkan investasi baru dengan pengelolaan aset eksisting yang efisien untuk memaksimalkan produksi. NUPRC berkomitmen menciptakan lingkungan regulasi yang ramah investasi guna mempercepat penyelesaian proyek dan menarik modal segar.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi pengingat bahwa investasi hulu migas masih memiliki prospek cerah di kawasan Afrika, terutama dengan dukungan kebijakan fiskal dan regulasi yang stabil. Nigeria, sebagai anggota OPEC, terus berupaya meningkatkan produksi minyaknya yang sempat terhambat oleh kurangnya investasi baru. Keberhasilan Usan Infill dapat menjadi model bagi kerja sama serupa di negara berkembang lainnya, termasuk potensi keterlibatan perusahaan migas nasional Indonesia di blok-blok serupa.
Ke depan, keberlanjutan proyek ini akan bergantung pada stabilitas harga minyak global dan komitmen para mitra untuk terus berinvestasi. Eyesan optimistis proyek Usan akan menjadi katalis bagi investasi laut dalam lainnya di Nigeria. Pertanyaannya, akankah gelombang investasi ini mampu membawa Nigeria kembali ke puncak produksi minyak seperti era sebelum pandemi?



