India-Australia Sepakati Pasokan Uranium: Langkah Besar Energi Bersih di Asia
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan kesepakatan pasokan uranium dari Australia saat kunjungan ke Melbourne, Kamis (9/7).
- Kesepakatan ini memungkinkan ekspor uranium jangka panjang untuk tujuan damai di bawah pengawasan IAEA, mendukung target energi non-fosil India.
- Kerja sama ini memperkuat aliansi strategis kedua negara di tengah ketegangan dengan China, dengan implikasi bagi keseimbangan energi dan geopolitik regional.

India dan Australia resmi menandatangani kesepakatan pasokan uranium yang akan menjadi fondasi baru bagi ambisi energi nuklir India. Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan perjanjian tersebut saat bertemu dengan mitranya dari Australia, Anthony Albanese, di Melbourne pada Kamis (9/7). Langkah ini dinilai krusial bagi negara dengan penduduk terbanyak di dunia yang terus bergulat dengan kebutuhan listrik yang hampir tak terpuaskan.
Australia, yang memiliki sekitar 28 persen cadangan uranium global, selama ini terhambat oleh kendala hukum dan sensitivitas politik untuk mengekspor ke India. Namun, kesepakatan yang diteken kali ini membuka jalan bagi pasokan jangka panjang yang diklaim akan digunakan "semata-mata untuk tujuan damai" dan berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
"Kami telah menandatangani perjanjian penting hari ini tentang energi nuklir. Ini akan membuka jalan bagi pasokan uranium dari Australia ke India dan memberikan momentum baru bagi tujuan energi bersih kami," ujar Modi dalam pernyataan bersama. Albanese menambahkan bahwa pengaturan ini akan membantu meningkatkan pangsa kapasitas listrik non-fosil di India.
Kesepakatan uranium ini bukan sekadar transaksi energi. Ia menjadi simbol menguatnya hubungan bilateral India-Australia yang dalam beberapa tahun terakhir semakin erat, didorong oleh keinginan bersama untuk mengimbangi ambisi militer Beijing serta mencari mitra dagang di luar China. Kedua pemimpin juga sepakat memperkuat kerja sama pertahanan dan rantai pasok mineral kritis, serta membangun "terminal pelacak ruang angkasa sementara" di Kepulauan Cocos Keeling untuk mendukung proyek penerbangan antariksa India.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi strategis. Sebagai negara tetangga yang juga bergantung pada energi fosil, langkah India menuju energi nuklir dapat menjadi preseden bagi diversifikasi energi di kawasan. Di sisi lain, menguatnya poros India-Australia berpotensi menggeser keseimbangan geopolitik di Indo-Pasifik, yang secara langsung memengaruhi kepentingan Indonesia dalam menjaga stabilitas regional.
Di luar dimensi energi, kunjungan Modi juga menyoroti perubahan demografis signifikan di Australia. Untuk pertama kalinya, komunitas diaspora India menjadi kelompok terbesar penduduk kelahiran luar negeri di Australia, mengalahkan komunitas Inggris. "Pada 2014, komunitas diaspora India di Australia relatif kecil. Namun pada 2026, ia menjadi komunitas diaspora terbesar. Ini perubahan demografis yang sangat besar," kata Teesta Prakash dari Australia India Institute.
Modi dijadwalkan menghadiri rapat umum komunitas di sebuah stadion di Melbourne yang diperkirakan dihadiri lebih dari 20.000 orang. Namun, kunjungannya juga memicu protes. Aliansi Melawan Islamofobia Australia berencana berdemonstrasi, menyoroti tuduhan penganiayaan terhadap kelompok minoritas di India. Sementara itu, pengunjuk rasa anti-imigrasi juga turun ke jalan dengan spanduk bertuliskan "Utamakan Warga Australia".
Ke depan, kesepakatan uranium ini membuka pintu bagi India untuk mempercepat transisi energinya, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dan proliferasi nuklir. Akankah kerja sama ini menjadi model bagi negara-negara berkembang lain yang ingin mengejar energi bersih tanpa meninggalkan ambisi pertumbuhan? Atau justru memicu ketegangan baru di kawasan yang sudah rapuh?



