Banjir Besar China Selatan: 39 Tewas, Ratusan Ribu Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat hujan ekstrem di Guangxi, China selatan, menewaskan 39 orang dan menyebabkan sembilan lainnya hilang.
- Jembatan ambrol dan ribuan hewan hilang, sementara lebih dari 130.000 warga dievakuasi dalam operasi penyelamatan besar-besaran.
- Ancaman badai baru, Typhoon Bavi, mengintai Taiwan dan pesisir timur China, berpotensi memperparah bencana.

Bencana banjir besar melanda wilayah selatan China setelah hujan deras yang dipicu badai tropis Maysak mengguyur selama berhari-hari. Otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 39 orang tewas, dengan sebagian besar korban berasal dari Kota Hengzhou, Guangxi, akibat jebolnya bendungan reservoir yang memicu gelombang air bah.
Wakil Wali Kota Nanning, Ding Wei, dalam konferensi pers Kamis (9/7) mengungkapkan bahwa 26 dari total korban tewas terjadi di Hengzhou setelah bendungan parsial ambrol. Sembilan warga lainnya masih dinyatakan hilang di kawasan Guangxi. Sebelumnya, angka kematian yang dilaporkan pada Selasa lalu baru mencapai enam orang.
Badai Maysak yang melanda sejak Sabtu pekan lalu membawa curah hujan bersejarah, meluapkan waduk dan membuat ribuan warga terisolasi di rumah maupun gedung bertingkat. Badan Meteorologi Nasional China mencatat akumulasi hujan mencapai 10โ40 sentimeter di sejumlah daerah, bahkan lebih dari 90 sentimeter di titik terparah.
Operasi penyelamatan masih berlangsung besar-besaran. Tim penyelamat menggunakan drone dan sekitar 5.700 perahu untuk menjangkau korban yang terperangkap. Di Kota Guigang, tim masih mengevakuasi lebih dari 10.000 siswa dan guru dari kompleks sekolah yang terendam. Arus deras dan puing-puing menjadi tantangan utama bagi para petugas.
Banjir tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga satwa. Kebun binatang di Guigang melaporkan lebih dari 100 hewan hilang, termasuk dua zebra, empat landak, dan puluhan burung tropis. Di Hengzhou, ular-ular yang diduga lepas dari peternakan memaksa otoritas menyediakan antivenom dan mengimbau warga waspada. Sementara itu, seorang pengelola penampungan hewan di Kabupaten Binyang berjuang menyelamatkan sekitar 200 kucing dan puluhan anjing dengan membawa mereka melawan arus deras.
Ding Wei menambahkan bahwa air banjir mulai surut, namun hujan masih diperkirakan turun di beberapa wilayah dalam dua hari ke depan. Tim dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan puing serta melakukan disinfeksi di sejumlah kota di Hengzhou. Perbaikan jalan terus dilakukan, dan listrik telah pulih di lebih dari 60.000 rumah.
Di tengah upaya pemulihan, ancaman baru muncul. Badai kedua, Typhoon Bavi, kini berada di laut dan diperkirakan akan melintas di utara Taiwan, membawa hujan lebat ke pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu, sebelum mendarat di Provinsi Zhejiang atau Fujian pada Sabtu mendatang. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan bencana susulan yang dapat memperparah kondisi yang sudah memprihatinkan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi. Dengan topografi kepulauan dan sistem drainase yang rentan, Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini cukup untuk menghadapi skenario serupa?



