Cuaca Ekstrem Melanda: Delapan Negara Bagian Malaysia Dihantam Badai Petir hingga Sore
Baca dalam 60 detik
- MetMalaysia mengeluarkan peringatan badai petir, hujan lebat, dan angin kencang untuk delapan negara bagian hingga pukul 19.00 waktu setempat.
- Wilayah terdampak meliputi Kedah, Perak, Kelantan, Terengganu, Pahang, Selangor, Johor, dan Sabah, dengan potensi banjir kilat dan pohon tumbang.
- Peringatan ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang kerap terjadi di musim pancaroba.

Badan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi badai petir, hujan deras, dan angin kencang yang diperkirakan melanda delapan negara bagian hingga Kamis (9/7) pukul 19.00 waktu setempat. Peringatan ini dikeluarkan menyusul terbentuknya awan Cumulonimbus yang signifikan di sejumlah wilayah, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Dalam pernyataan resminya, MetMalaysia merinci wilayah-wilayah yang masuk dalam zona waspada. Di Kedah, daerah Sik, Baling, Kulim, dan Bandar Baharu diprediksi mengalami cuaca buruk. Sementara di Perak, kawasan Larut, Matang dan Selama, Hulu Perak, Kuala Kangsar, serta Kinta juga masuk dalam daftar. Kelantan menjadi negara bagian dengan cakupan terluas, meliputi Tumpat, Pasir Mas, Kota Baru, Tanah Merah, Bachok, Machang, dan Pasir Puteh. Di Terengganu, peringatan berlaku untuk Besut, Setiu, Kuala Nerus, dan Kuala Terengganu. Pahang hanya mencakup Cameron Highlands, sedangkan Selangor meliputi Hulu Selangor. Johor terdampak di Mersing dan Kota Tinggi, sementara Sabah hanya mencakup Kudat.
Fenomena ini dipicu oleh pertemuan massa udara lembap dari Laut Cina Selatan dengan udara hangat di daratan, menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Menurut analis meteorologi, pola cuaca seperti ini kerap terjadi pada masa transisi musim, di mana hujan lebat dan angin kencang dapat muncul secara tiba-tiba. Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah aliran sungai, pohon besar, dan struktur bangunan yang rapuh.
Bagi Indonesia, peringatan cuaca ekstrem di Malaysia ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi fenomena serupa. Wilayah Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat kerap mengalami dampak cuaca dari sistem tekanan rendah yang sama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini untuk beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Masyarakat di daerah perbatasan seperti Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat disarankan memantau informasi cuaca terkini.
Ke depan, intensitas cuaca ekstrem diperkirakan masih akan tinggi seiring dengan aktifnya gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana di kedua negara sudah cukup tangguh menghadapi ancaman yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim?



