Tiga Pekerja Tewas Berantai di Gorong-gorong Cipayung: Tragedi K3 yang Terulang
Baca dalam 60 detik
- Tiga pekerja proyek di Bambu Apus, Jakarta Timur, ditemukan tewas di gorong-gorong setelah saling berupaya menolong dalam insiden berantai.
- Diduga korban kekurangan oksigen atau terpapar gas berbahaya saat bekerja di ruang terbatas, memicu kepanikan dan upaya penyelamatan yang berujung fatal.
- Insiden ini kembali menyoroti lemahnya penerapan standar keselamatan kerja di sektor konstruksi dan infrastruktur Indonesia.

Tiga pekerja proyek tewas setelah terjebak di gorong-gorong kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (9/7) pagi. Peristiwa nahas itu terjadi secara berantai ketika satu per satu pekerja pingsan saat berusaha menolong rekannya yang lebih dulu tak sadarkan diri di dalam saluran bawah tanah.
Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur, Abdul Wahid, mengatakan pihaknya menerima laporan permohonan evakuasi pukul 09.49 WIB. Sebanyak 12 personel rescue dikerahkan ke lokasi dan memulai proses evakuasi pukul 10.00 WIB. Ketiga korban berhasil dikeluarkan dari gorong-gorong pada pukul 11.55 WIB, namun seluruhnya telah meninggal dunia.
Menurut Wahid, kejadian bermula saat seorang pekerja masuk ke gorong-gorong dan tiba-tiba pingsan di setengah tangga. Rekan kerjanya yang melihat langsung turun menolong, namun ikut pingsan. Pekerja ketiga yang menyusul juga mengalami nasib serupa. "Mereka meninggal satu per satu saat berupaya membantu," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kematian ketiga pekerja belum diketahui. Dugaan sementara mengarah pada kekurangan oksigen atau keracunan gas berbahaya di dalam gorong-gorong. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Insiden ini menjadi pengingat pahit akan risiko tinggi bekerja di ruang terbatas (confined space) yang kerap mengabaikan prosedur keselamatan.
Di Indonesia, kecelakaan kerja di sektor konstruksi dan infrastruktur masih menjadi masalah kronis. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ratusan kasus kematian akibat kerja setiap tahunnya, dengan sektor konstruksi menyumbang angka tertinggi. Minimnya pelatihan, pengawasan, dan perlengkapan keselamatan seperti alat deteksi gas serta sistem evakuasi darurat seringkali menjadi faktor utama. Tragedi berantai seperti di Cipayung menunjukkan betapa rentannya nyawa pekerja ketika prosedur K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) tidak dijalankan secara ketat.
Kejadian ini juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab perusahaan proyek. Apakah sudah ada prosedur kerja aman untuk memasuki gorong-gorong? Mengapa tidak ada alat pelindung diri yang memadai? Otoritas setempat diharapkan tidak hanya menyelidiki penyebab teknis, tetapi juga mengevaluasi kepatuhan kontraktor terhadap standar keselamatan. Jika tidak, insiden serupa akan terus berulang, meninggalkan duka bagi keluarga korban dan noda bagi industri konstruksi nasional.



