Haruki Murakami Rilis Novel Pertama dalam Tiga Tahun: Perjalanan Menuju Kegelapan yang Membangkitkan Gairah
Baca dalam 60 detik
- Novel terbaru Haruki Murakami, 'The Tale of Kaho,' menjadi karya pertamanya yang menempatkan perempuan sebagai protagonis tunggal, mengupas relasi ibu-anak yang rumit.
- Pengalaman dirawat di rumah sakit selama proses penulisan justru memicu semangat baru bagi Murakami, yang mengaku kehilangan 17 kilogram dan nyaris putus asa.
- Murakami menegaskan bahwa kreativitas manusia tidak bisa digantikan AI, karena novelis 'menarik sesuatu yang benar-benar baru ke dunia' dari kedalaman bawah sadar.

Haruki Murakami, sastrawan Jepang yang namanya melambung di panggung internasional, meluncurkan novel anyarnya, "The Tale of Kaho," pada Jumat pekan ini. Karya setebal 352 halaman ini menjadi novel penuh pertama yang ia tulis dalam tiga tahun terakhir, sekaligus menandai babak baru dalam kariernya: untuk pertama kalinya, seorang perempuan menjadi satu-satunya tokoh sentral dalam novel panjang Murakami.
Buku ini mengikuti kisah Kaho, seorang penulis buku bergambar, yang bertumbuh dewasa melalui konfrontasi dengan ibunya. Namun, seperti biasa, Murakami tidak menyajikan realisme polos. Dunia Kaho dipenuhi makhluk-makhluk ganjil—trenggiling dari hutan, jaguar, dan ratu rayap—yang mewarnai perjalanannya antara alam nyata dan alam maya. "Dunia nyata dan dunia tidak nyata saling memengaruhi dan membuat cerita hidup," kata Murakami dalam wawancara dengan Kyodo News, seperti dikutip dalam rilis pers.
Yang menarik, novel ini lahir dari cerita pendek yang ia tulis untuk acara pembacaan pada 2024. Awalnya hanya ada satu adegan: seorang pria aneh berkata kepada Kaho, "Ini pertama kalinya aku berkencan dengan perempuan sejelek kamu." Murakami sendiri tidak tahu ke mana cerita itu akan berujung. "Saya pikir itu sudah selesai, tetapi orang-orang bertanya, 'Apa yang terjadi selanjutnya?' Jadi saya coba menulis kelanjutannya," ujarnya. Prosesnya terasa seperti merangkai cerita-cerita pendek menjadi satu kesatuan yang longgar, namun anehnya tidak ada kontradiksi berarti.
Murakami mengakui bahwa pengalaman sakit dan dirawat di rumah sakit—yang pertama kali dalam hidupnya—memberinya perspektif baru. "Saya kehilangan 17 kilogram, hampir tidak bisa berjalan, dan tidak punya keinginan menulis apa pun. Saya bertanya-tanya apakah saya masih bisa melakukan sesuatu yang berharga," kenangnya. Namun setelah pulih, keinginan menulis kembali dengan kekuatan yang lebih besar. "Mungkin rasa sukacita dan optimisme yang baru itu terpancar dalam novel ini. Dulu saya suka cerita yang berakhir absurd tanpa resolusi, tetapi kali ini saya ingin memberikan kesimpulan dan meninggalkan perasaan bahwa langkah selanjutnya ada di depan."
Salah satu aspek yang menonjol adalah penggambaran kekerasan simbolis. Kaho membunuh jaguar yang merasuki pemilik toko pengasah pisau dan ratu rayap yang menguasai tubuh ibunya. Namun Murakami menekankan, "Ada 'pembunuhan' dalam novel ini, tetapi tidak ada 'pembunuhan' dalam arti kriminal. Kaho menusuk ibunya dengan pisau, tetapi dalam arti lain, ia mencoba membunuh sesuatu di dalam dirinya sendiri. Melalui tindakan itu, ia tumbuh sebagai pribadi. Pembunuhan juga membawa makna simbolis kelahiran kembali."
Bagi pembaca di Indonesia, Murakami bukanlah nama asing. Karya-karyanya seperti "Norwegian Wood" dan "1Q84" telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan memiliki basis penggemar setia. Novel terbaru ini menawarkan eksplorasi relasi ibu-anak yang jarang disentuh Murakami sebelumnya—sebuah tema universal yang relevan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi ikatan keluarga. "Saya belum banyak menulis tentang hubungan keluarga dan saya tidak pernah merasa nyaman melakukannya. Tapi kali ini, saya bertekad untuk menggarapnya dengan sungguh-sungguh," katanya.
Menjelang akhir wawancara, Murakami juga menyinggung soal kecerdasan buatan (AI) yang mulai merambah dunia penulisan. Dengan tegas ia membedakan pendekatannya: "AI mensintesis apa yang sudah terjadi dan membuat inferensi. Tapi apa yang saya lakukan saat menulis novel benar-benar berbeda. Tugas novelis adalah menarik sesuatu yang benar-benar baru ke dunia. Jika saya tetap fokus, tiba-tiba seekor trenggiling muncul di benak saya. Itu tidak berasal dari inferensi—ia muncul begitu saja dari udara kosong."
Dengan keyakinan yang menguat setelah empat dekade berkarya, Murakami berencana terus menulis selama masih mampu. "Saya tidak tahu berapa lama lagi saya akan hidup, tetapi saya masih ingin terus menulis. Setelah pulih dari sakit, keinginan itu menjadi lebih kuat dari sebelumnya." Pertanyaan yang kini menggantung: akankah "The Tale of Kaho" menjadi awal dari fase baru dalam karier sang maestro, atau justru menjadi puncak dari perjalanan kreatif yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun?



