Lahar Mengancam Lereng Kanlaon: Hujan Topan Bavi Picu Risiko Baru Pasca-Erupsi
Baca dalam 60 detik
- Erupsi moderat Gunung Kanlaon pada Kamis pagi disusul peringatan lahar akibat hujan deras Topan Bavi.
- Ahli vulkanologi meminta warga di daerah aliran sungai waspada terhadap aliran lumpur vulkanik yang bisa terjadi dalam beberapa jam ke depan.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi lahar pasca-erupsi di musim hujan.

Masyarakat di sekitar Gunung Kanlaon, Filipina, dihadapkan pada ancaman ganda setelah erupsi moderat pada Kamis pagi (9 Juli) dan datangnya Topan Bavi yang membawa hujan deras. Ahli vulkanologi negara itu memperingatkan potensi aliran lahar yang dapat menyapu permukiman di lereng bawah gunung.
Mari Andylene Y. Quintia, vulkanologis yang bertugas di Observatorium Gunung Kanlaon di bawah Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs), mendesak otoritas setempat dan warga untuk terus memantau perkembangan. Menurutnya, material vulkanik yang baru dimuntahkan—seperti abu dan batuan kecil—sangat rentan terbawa air hujan menjadi lahar dingin yang bergerak cepat.
Erupsi Kamis pagi itu termasuk kategori moderat—tidak sebesar letusan tahun lalu, tetapi cukup untuk melontarkan abu dan material piroklastik ke atmosfer. Phivolcs mencatat, letusan disertai suara gemuruh yang membuat warga di dua kota terdekat sempat panik. Belum ada laporan korban jiwa, namun aktivitas penerbangan di sekitar wilayah tersebut mulai diwaspadai.
Ancaman lahar menjadi kekhawatiran utama karena topan Bavi diperkirakan akan mengguyur kawasan Kanlaon dalam beberapa hari ke depan. Lahar—campuran air, abu, dan bebatuan—dapat mengalir dengan kecepatan tinggi melalui lembah dan sungai, merusak infrastruktur serta mengancam jiwa penduduk yang tinggal di bantaran. Phivolcs sebelumnya telah memetakan zona bahaya lahar di sekitar gunung, namun intensitas hujan yang ekstrem bisa memperluas area terdampak.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko serupa di gunung api aktif seperti Merapi, Semeru, atau Sinabung. Musim hujan sering kali memperparah dampak erupsi karena lahar dapat terjadi berminggu-minggu setelah letusan. Badan Geologi Indonesia pun rutin mengeluarkan peringatan dini lahar saat curah hujan tinggi di sekitar gunung api berstatus waspada atau siaga.
Masyarakat di lereng Kanlaon diimbau untuk tidak beraktivitas di dekat sungai yang berhulu di puncak gunung. Pemerintah setempat telah menyiapkan jalur evakuasi dan posko darurat. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa cepat lahar akan turun, dan apakah sistem peringatan dini cukup responsif untuk menyelamatkan warga?



