Bentrok Wasit vs Mesir: Collina Bantah Tuduhan Kecurangan di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- FIFA membantah keras tuduhan Mesir tentang wasit yang memihak Argentina pada laga 16 besar Piala Dunia.
- Pierluigi Collina menegaskan integritas wasit tidak bisa dipertanyakan dan tuduhan tanpa bukti berbahaya bagi keselamatan ofisial.
- Kontroversi VAR dan keputusan FIFA membatalkan kartu merah Balogun memicu perdebatan tentang konsistensi peradilan sepak bola global.

Kepala perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, angkat bicara menanggapi gelombang protes dari Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) yang menuding wasit sengaja memenangkan Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia. Dalam pernyataan resmi, Collina menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak yang berhak meragukan integritas para pengadil lapangan, apalagi menyebarkan tuduhan tanpa dasar yang bisa memicu ancaman fisik terhadap ofisial dan keluarganya.
EFA sebelumnya secara resmi meminta FIFA mencoret wasit yang memimpin laga Argentina vs Mesirโyang berakhir 3-2 untuk juara bertahanโdari turnamen. Tuduhan 'standar ganda' dilayangkan setelah dua keputusan kontroversial di babak kedua: gol Mesir dianulir VAR karena pelanggaran di awal serangan, dan insiden di kotak penalti Argentina yang tidak dianggap sebagai pelanggaran terhadap Mohamed Salah. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan menyindir bahwa wasit mungkin ingin menjaga Lionel Messi tetap berlaga.
Collina, yang dikenal sebagai wasit legendaris asal Italia, menolak semua spekulasi tersebut. Ia menekankan bahwa tidak ada intervensi dari pihak mana pun, termasuk Presiden FIFA Gianni Infantino, dalam pengambilan keputusan wasit. "Wasit membuat keputusan jujur, sama seperti pemain dan pelatih yang selalu berusaha memberikan yang terbaik," ujarnya. Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa FIFA memiliki agenda tertentu untuk mempertahankan tim unggulan.
Kontroversi ini tidak hanya menyoroti kepemimpinan wasit, tetapi juga memicu perdebatan tentang penggunaan VAR. Collina menjelaskan bahwa VAR berhak meninjau setiap gol dengan memeriksa fase penguasaan bola sejak awal serangan, tanpa batasan jarak atau waktu. "Kami percaya pelanggaran tetaplah pelanggaran, meskipun tidak terlihat jelas oleh wasit di lapangan," katanya. Namun, prinsip ini justru menuai kritik karena dinilai terlalu subjektif dan tidak konsisten, terutama setelah FIFA membatalkan kartu merah Balogun yang seharusnya otomatis.
Bagi Indonesia, dinamika perwasitan di Piala Dunia menjadi pelajaran berharga. Dalam beberapa tahun terakhir, polemik serupa juga terjadi di Liga Indonesia, di mana keputusan VAR dan wasit sering menjadi sorotan. Kasus ini menegaskan pentingnya transparansi dan standar yang jelas dalam pengambilan keputusan, agar kepercayaan terhadap integritas pertandingan tetap terjaga. Jika FIFA sendiri masih menghadapi gugatan seperti ini, bagaimana dengan kompetisi domestik yang sumber dayanya lebih terbatas?
Ke depan, FIFA dituntut tidak hanya membela wasit, tetapi juga memperbaiki sistem agar keputusan kontroversial bisa diminimalkan. Pertanyaan besarnya: akankah gelombang protes ini mendorong reformasi perwasitan global, atau justru memperdalam krisis kepercayaan terhadap lembaga tertinggi sepak bola dunia?



