Arsenal Bisa Hemat Rp2 Triliun: Lewis-Skelly, Mitra Impian Rice Tanpa Guimaraes
Baca dalam 60 detik
- Arsenal mempertimbangkan opsi internal Myles Lewis-Skelly sebagai gelandang tengah, bukan membayar mahal untuk Bruno Guimaraes yang berusia 30 tahun.
- Lewis-Skelly, lulusan akademi berusia 19 tahun, tampil gemilang saat dipasangkan dengan Declan Rice melawan Fulham, catat 97% akurasi umpan dan enam recovery bola.
- Keputusan ini bisa menghemat dana transfer hingga £100 juta, yang dialokasikan untuk memperkuat sektor lain seperti sayap atau lini depan.

Arsenal menghadapi dilema besar di bursa transfer musim panas ini: mengeluarkan dana fantastis untuk Bruno Guimaraes, atau memaksimalkan potensi pemain muda sendiri, Myles Lewis-Skelly, yang dinilai sebagai pasangan ideal Declan Rice di lini tengah. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada strategi jangka pendek Mikel Arteta, tetapi juga pada keseimbangan keuangan klub yang tengah mengejar dominasi Premier League dan Liga Champions.
Guimaraes, kapten Newcastle United, memang telah lama menjadi incaran. Gelandang Brasil itu disebut-sebut ingin bergabung dengan proyek Arteta, namun Newcastle bersikeras tidak akan melepasnya dengan harga murah. Nilai transfer yang mendekati £100 juta—setara dengan rekor pembelian Sandro Tonali oleh Tottenham—membuat Arsenal berpikir ulang. Apalagi, Guimaraes akan genap berusia 30 tahun pada akhir 2027, sehingga nilai jualnya diprediksi menurun dalam beberapa musim ke depan.
Di sisi lain, Myles Lewis-Skelly, lulusan Hale End yang sudah menjadi juara Premier League, menunjukkan performa menjanjikan saat diplot sebagai gelandang tengah. Dalam laga krusial melawan Fulham yang berakhir 3-0, ia tampil memukau bersama Rice, menyelesaikan 97% umpannya, memenangi tujuh duel, dan melakukan enam kali recovery bola. Penampilan itu membuat seorang insider klub menyebutnya sebagai "kapten masa depan" Arsenal.
Keputusan untuk tidak memburu Guimaraes juga membuka peluang bagi Arsenal untuk mengalokasikan dana ke sektor lain, seperti sayap atau lini depan. Saat ini, Leandro Trossard dilaporkan akan hengkang ke Besiktas, dan The Gunners telah menyiapkan Christos Tzolis dari Club Brugge sebagai pengganti. Namun, jika dana £100 juta bisa dihemat, Arteta bisa bergerak di bursa untuk pemain seperti Morgan Rogers (Aston Villa) yang juga dibanderol mahal, atau opsi lain seperti Martin Zubimendi dan Christian Norgaard.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa mulai mengutamakan pengembangan pemain muda dibandingkan pembelian mahal. Arsenal, yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia, bisa menjadi contoh manajemen keuangan yang bijak di tengah inflasi harga pemain. Jika Lewis-Skelly sukses menjadi bintang, ia akan menjadi inspirasi bagi pesepakbola muda Tanah Air yang bercita-cita menembus tim utama klub Eropa.
Pertanyaan besarnya: apakah Arteta berani mengambil risiko dengan mengandalkan pemain berusia 19 tahun di lini tengah, atau tetap memaksakan transfer Guimaraes yang sudah terbukti? Jawabannya akan menentukan arah Arsenal dalam mempertahankan gelar Premier League dan mengejar sihir Liga Champions.



