Piala Dunia 2026: Turnamen Terbesar dalam Sejarah dengan Rekor Gol dan Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata 2,92 gol per pertandingan menjadi yang tertinggi sejak 1970, dengan 74,6% gol berasal dari open play.
- Sepuluh gol kemenangan dicetak setelah menit ke-90, memecahkan rekor turnamen sebelumnya.
- Keputusan kontroversial FIFA yang membatalkan skorsing Folarin Balogun memicu kritik dari UEFA dan pelatih Inggris.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat telah mencatatkan diri sebagai edisi paling spektakuler dalam sejarah, dengan rekor gol, drama menit akhir, dan kejutan dari tim underdog. Namun, di balik gemerlap pertandingan, turnamen ini juga diwarnai kontroversi besar terkait intervensi politik dalam keputusan disiplin.
Sejak fase grup, ajang sepak bola terbesar dunia ini menyajikan 280 gol dari 96 pertandingan, atau rata-rata 2,92 gol per laga—tertinggi sejak Piala Dunia 1970 di Meksiko yang mencatat 2,97 gol per pertandingan. Angka ini jauh melampaui rata-rata Qatar 2022 (2,69), Rusia 2018 (2,64), Brasil 2014 (2,67), dan Afrika Selatan 2010 (2,27). Yang lebih mengesankan, 74,6% gol tercipta dari permainan terbuka, sementara gol penalti hanya menyumbang 5%—rekor terendah dalam sejarah Piala Dunia.
Drama menit akhir menjadi ciri khas turnamen ini. Sepuluh gol kemenangan dicetak setelah menit ke-90, memecahkan rekor sebelumnya. Delapan dari 24 pertandingan knockout dimenangkan lewat gol pada menit ke-85 atau setelahnya, sementara empat laga harus diselesaikan lewat adu penalti. Comeback luar biasa juga mewarnai turnamen: Belgia dan Argentina sama-sama membalikkan ketertinggalan dua gol untuk menang 3-2 atas Senegal dan Mesir, sebuah pencapaian yang terakhir terjadi pada 1970.
Tim-tim kecil turut mencuri perhatian. Curacao, negara kepulauan terkecil yang lolos ke Piala Dunia, bangkit setelah dihancurkan Jerman 7-1 dengan menahan imbang Ekuador. Cape Verde, dengan kiper Vozinha yang berusia 40 tahun, menjadi cerita underdog terbesar: mereka lolos dari grup berisi Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, lalu nyaris mengalahkan juara bertahan Argentina sebelum kalah 3-2 di perpanjangan waktu.
Kehadiran para bintang juga menjadi daya tarik. Persaingan Sepatu Emas memanas dengan Lionel Messi (8 gol), Kylian Mbappe dan Erling Haaland (masing-masing 7 gol), serta Harry Kane (6 gol). Ini pertama kalinya tiga pemain mencetak tujuh gol atau lebih dalam satu edisi Piala Dunia. Namun, di luar lapangan, harga tiket yang selangit menuai kritik. FIFA mengklaim 99,7% kursi terisi dengan total 6,2 juta penonton hingga babak kedua, tetapi banyak suporter mengeluhkan biaya akomodasi dan transportasi yang membengkak.
Kontroversi terbesar menyangkut keputusan FIFA yang membatalkan skorsing satu pertandingan untuk striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah ia mendapat kartu merah saat melawan Bosnia-Herzegovina. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi telah menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membahas larangan tersebut. FIFA menggunakan Pasal 27 kode disiplin untuk menunda hukuman selama satu tahun masa percobaan. Keputusan ini memicu kecaman dari UEFA, pelatih Inggris Thomas Tuchel, dan timnas Belgia yang merasa keputusan itu tidak adil.
Dengan perempat final yang mempertemukan empat tim teratas peringkat FIFA—Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris—di jalur terpisah, potensi laga sengit masih terbuka lebar. Namun, sejarah mencatat bahwa final yang buruk dapat merusak reputasi turnamen, seperti yang terjadi pada Italia 1990 dan AS 1994. Sebaliknya, final dramatis Qatar 2022 justru meninggalkan kesan positif. Pertanyaannya, akankah Piala Dunia 2026 mampu menyajikan final yang sepadan dengan gemerlap fase sebelumnya?



