Catherine, Princess of Wales Taklukkan Tiga Puncak Tertinggi Inggris dalam 24 Jam demi Amal
Baca dalam 60 detik
- Catherine, Princess of Wales berhasil menyelesaikan National Three Peaks Challenge dengan mendaki Scafell Pike, Ben Nevis, dan Snowdon dalam waktu 24 jam, meskipun cuaca buruk.
- Tantangan ini digelar untuk menggalang dana bagi The Royal Marsden Cancer Charity, sebuah yayasan yang juga didukungnya bersama Pangeran William.
- Pencapaian ini menjadi simbol perjuangan pribadi Catherine melawan kanker dan komitmennya terhadap isu kesehatan mental serta fisik para penyintas kanker.

Catherine, Princess of Wales, berhasil menuntaskan National Three Peaks Challenge dengan mendaki tiga gunung tertinggi di Inggris, Skotlandia, dan Wales dalam kurun waktu 24 jam, meskipun harus bergelut dengan cuaca ekstrem. Tantangan fisik ini tidak hanya menjadi uji ketahanan, tetapi juga bagian dari misi amalnya untuk mendukung riset kanker.
Dalam wawancara dengan podcast Overheard at Wimbledon bersama mantan petenis Tim Henman dan ketua All England Club Deborah Jevans, Catherine mengungkapkan bahwa cuaca saat pendakian sangat buruk. "Semua orang basah kuyup, tetapi ini adalah hal yang sangat khas Inggris—tetap bertahan. Anda basah kuyup dan semua orang berkata, 'Ayo, kita bisa melakukannya,'" ujarnya, menggambarkan semangat stois yang diusung para pendaki.
Rute yang ditempuh meliputi Scafell Pike (Inggris), Ben Nevis (Skotlandia), dan Snowdon (Wales). Total jarak tempuh berjalan kaki mencapai 23 mil dengan akumulasi pendakian 3.064 meter, ditambah perjalanan darat sejauh 462 mil di antara ketiga gunung yang dikemudikan oleh stafnya. Catherine didampingi oleh tim Mountain Rescue sepanjang perjalanan.
Setelah menyelesaikan tantangan, Catherine disambut oleh suaminya, Pangeran William, ketiga anak mereka—Pangeran George, Putri Charlotte, dan Pangeran Louis—serta orang tuanya, Carole dan Michael Middleton, dan saudaranya James di kaki Gunung Snowdon. Momen haru itu menunjukkan dukungan keluarga yang kuat bagi sang putri yang baru pulih dari kanker.
Melalui unggahan di Instagram resmi Prince and Princess of Wales, Catherine menuliskan pesan mendalam tentang pengalamannya melawan kanker. "Kanker tidak hanya memengaruhi tubuh. Ia mengubah cara Anda berpikir dan merasa, serta secara mendalam memengaruhi setiap aspek kehidupan. Saya tahu ini secara pribadi, dan bahwa perjalanan melalui dan setelah perawatan membutuhkan lebih dari sekadar obat-obatan," tulisnya. Ia menambahkan bahwa tantangan ini bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan setelah diagnosis dan memberi kembali kepada sesama.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Catherine menyoroti pentingnya dukungan psikologis dan komunitas bagi penyintas kanker. Di Indonesia, di mana akses terhadap layanan kesehatan mental masih terbatas, pendekatan holistik seperti yang dijalani Catherine—menggabungkan aktivitas fisik, dukungan keluarga, dan penggalangan dana—dapat menjadi inspirasi bagi pasien kanker dan keluarganya. Pengalaman ini juga menegaskan bahwa pemulihan dari kanker tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi juga pada kekuatan mental dan dukungan sosial.
Ke depan, tantangan serupa mungkin akan semakin populer di kalangan figur publik Indonesia sebagai sarana advokasi kesehatan. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah infrastruktur dan kesadaran masyarakat kita sudah siap mendukung pendekatan pemulihan yang komprehensif seperti ini?



