Rupiah Jebol ke Rp18.050 per Dolar AS, Tertekan Gejolak Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,33% ke level Rp18.050 per dolar AS pada Kamis (9/7/2026), menembus batas psikologis Rp18.000.
- Tekanan berasal dari eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dan permintaan aset safe haven, memperkuat dolar global.
- Risalah The Fed yang hawkish menambah sentimen negatif, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang bisa memperburuk arus modal keluar dari Indonesia.

Rupiah kembali terperosok ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir setelah dibuka di angka Rp18.050 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), menandai tekanan baru terhadap mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global yang kian memanas.
Berdasarkan data Refinitiv, depresiasi sebesar 0,33% terjadi sejak pembukaan pasar, menjadikan rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 yang sempat terlewati pada penutupan sebelumnya di Rp17.990. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat tipis 0,02% ke posisi 101,010 pada pukul 09.00 WIB, menunjukkan dominasi greenback masih berlanjut.
Pemicu utama pergerakan ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Militer AS melancarkan serangan baru ke Iran hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara gencatan senjata telah berakhir pada Rabu sore kemarin. Ketegangan yang kembali meninggi mendorong lonjakan harga minyak mentah global, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Bagi pasar Indonesia, kenaikan harga energi menjadi momok ganda. Di satu sisi, impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan cadangan devisa. Di sisi lain, harga energi yang tinggi berpotensi memicu inflasi global, yang kemudian memengaruhi ekspektasi suku bunga The Federal Reserve. Risalah rapat The Fed periode Juni yang dirilis pekan ini mengonfirmasi adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral AS, dengan sebagian anggota cenderung hawkish karena khawatir inflasi masih terlalu tinggi. Pasar pun meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga AS tahun ini, yang akan memperkuat dolar dan semakin membebani rupiah.
Konteks domestik menjadi semakin genting karena Indonesia masih bergantung pada aliran modal asing untuk mendanai defisit fiskal dan investasi. Jika dolar terus menguat dan suku bunga AS naik, investor asing cenderung menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Hal ini sudah terlihat dari tekanan pada rupiah yang terus berlanjut meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valas. Para pelaku pasar kini menanti langkah BI selanjutnya, apakah akan menaikkan suku bunga acuan atau memperketat likuiditas untuk menahan arus keluar modal.
โKetegangan geopolitik dan prospek suku bunga AS yang lebih tinggi adalah kombinasi berbahaya bagi rupiah. Tanpa katalis positif dari dalam negeri, pelemahan masih berpotensi berlanjut,โ ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran dan data ekonomi AS, terutama inflasi dan tenaga kerja. Jika ketegangan mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap rupiah bisa berkurang. Namun, jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp18.200 atau lebih rendah lagi. Pertanyaan besarnya: sejauh mana BI bersedia mengorbankan cadangan devisa untuk menahan pelemahan?



