IHSG Terperosok 1,89%, Investor Asing Kabur Besar-besaran
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan anjlok ke level 5.873,37, dipicu aksi jual asing yang mencapai Rp689 miliar di seluruh pasar.
- Ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh S&P DJI menambah tekanan, dengan potensi perubahan dari emerging market ke frontier market.
- Rekomendasi teknikal menargetkan saham PGAS, AKRA, MIDI, CMRY, dan BSSR di tengah volatilitas tinggi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 1,89% ke posisi 5.873,37 pada perdagangan Rabu (8/7), mencatat pelemahan terdalam dalam beberapa pekan terakhir. Aksi jual investor asing menjadi biang kerok utama, dengan net sell mencapai Rp674,26 miliar di pasar reguler dan Rp689,33 miliar di seluruh pasar. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan AMMN menjadi pemberat utama, sementara TLKM, JECX, dan ENRG masih mampu menahan laju penurunan lebih dalam.
Tekanan jual tidak hanya terjadi di dalam negeri. Sentimen negatif juga datang dari keputusan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) yang memasukkan Indonesia ke dalam Country Classification Watchlist 2027. Jika isu transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan informasi pemegang saham tidak kunjung diperbaiki, Indonesia berpotensi diturunkan statusnya dari emerging market menjadi special measures atau frontier market. Dampaknya sudah terasa: indeks ETF EIDO ambles 2,16% dan MSCI Indonesia melemah 1,80%.
Di tengah pelemahan pasar, sejumlah aksi korporasi menarik perhatian. PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) resmi melepas seluruh kepemilikan sahamnya di Krakatau Osaka Steel (KOS) kepada Osaka Steel Co., Ltd. (OSC) senilai USD14 juta atau sekitar Rp249,98 miliar. Divestasi ini dilakukan setelah KRAS mencatatkan laba bersih USD2,58 juta pada kuartal I-2026, berbalik dari rugi bersih USD46,90 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Langkah ini menunjukkan upaya KRAS untuk fokus pada bisnis inti dan memperbaiki struktur keuangan.
Sementara itu, PT Nusatama Berkah Tbk. (NTBK) mengumumkan rencana rights issue dengan target dana Rp500 miliar. Dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat anak usaha Pilar Pratama Dinamika (40%), pengembangan fasilitas assembling plant (34%), bisnis kendaraan listrik (16%), dan akuisisi perusahaan jasa pertambangan (10%). Anak usaha NTBK juga menjalin kerja sama dengan Magma Capital Resources Private untuk mengangkut batu bara menggunakan truk listrik, dengan potensi volume 500.000 metrik ton per bulan. Langkah ini mencerminkan diversifikasi bisnis di tengah transisi energi.
Dari sisi teknikal, analis merekomendasikan akumulasi beli untuk beberapa saham pilihan. PGAS direkomendasikan buy di rentang 1.410-1.420 dengan target harga 1.440-1.465 dan stop loss di 1.340. AKRA di level 1.300-1.315 menuju target 1.330-1.350. MIDI di 280-284 dengan target 290-294. CMRY di 4.680-4.700 menuju 4.750-4.820. Sementara BSSR di 4.030-4.040 dengan target 4.080-4.140. Investor disarankan mencermati level support dan resistance mengingat volatilitas yang masih tinggi.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan evaluasi S&P DJI serta respons regulator terhadap isu transparansi. Jika Indonesia gagal memenuhi standar, arus modal asing berpotensi semakin terhambat. Sebaliknya, perbaikan tata kelola bisa menjadi katalis positif bagi IHSG untuk bangkit kembali. Pertanyaannya, mampukah otoritas pasar modal meyakinkan investor global dalam waktu yang tersisa?



