Harga Sertifikat Mobil di Singapura Tembus Rp1,5 Miliar: Biaya Kepemilikan Kian Tak Terjangkau
Baca dalam 60 detik
- Harga sertifikat kepemilikan kendaraan (COE) untuk mobil kecil di Singapura mencapai rekor tertinggi hampir US$100.000, naik empat kali lipat dari level sebelum pandemi.
- Sistem kuota ketat ini menjadikan Singapura negara termahal di dunia untuk memiliki mobil, dengan total biaya satu mobil setara harga rumah subsidi pemerintah.
- Kenaikan ini dipicu oleh permintaan mobil listrik yang kompetitif dan berkurangnya pasokan sertifikat, memicu produsen mengecilkan mesin untuk masuk kategori lebih murah.

Biaya memiliki mobil di Singapura kembali mencetak rekor baru. Pada Rabu (8/7), harga sertifikat kepemilikan kendaraan (Certificate of Entitlement/COE) untuk mobil berkapasitas mesin di bawah 1,6 liter melonjak hingga hampir US$100.000 atau setara Rp1,5 miliar. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah untuk kategori kendaraan kecil di negara kota tersebut.
Singapura menerapkan sistem kuota ketat dengan melelang sejumlah tetap COE setiap periode. Sertifikat ini memberikan hak kepemilikan mobil selama 10 tahun dan menjadi salah satu instrumen utama untuk membatasi jumlah kendaraan di jalan, yang saat ini sekitar satu juta unit. Dengan populasi 6,1 juta jiwa, kebijakan ini telah menjadikan Singapura sebagai kota termahal di dunia untuk membeli mobil.
Kenaikan harga COE untuk mobil kecil telah melonjak empat kali lipat dibandingkan masa sebelum pandemi, dan tren ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Menurut Menteri Perhubungan Singapura, Jeffrey Siow, dalam jawaban parlemen pada Mei lalu, permintaan tetap kuat karena harga mobil listrik yang kompetitif, sementara ketersediaan sertifikat untuk kendaraan kecil di lelang terus menurun.
Fenomena ini menciptakan ironi tersendiri. Harga satu lembar COE kini setara dengan biaya pembelian empat unit Toyota Corolla di Amerika Serikat. Sementara itu, total harga satu mobil di Singapura—termasuk sertifikat, biaya registrasi, dan pajak—mencapai S$179.888 (US$139.000). Angka ini hampir sama dengan harga rumah subsidi pemerintah yang dimulai dari S$139.000, dan lebih tinggi dari median pendapatan tahunan rumah tangga di Singapura yang sebesar S$149.352.
Untuk mengakali biaya yang semakin mahal, banyak produsen mobil menurunkan kapasitas mesin model populer mereka agar masuk dalam kategori kendaraan kecil yang COE-nya lebih murah. Langkah ini menjadi strategi umum di pasar Singapura, namun tetap tidak mampu menahan laju kenaikan harga sertifikat. Pada Oktober 2023, ketika COE untuk mobil besar menembus US$100.000, harga untuk mobil kecil masih sekitar US$77.500. Namun sejak awal tahun ini, harga terus merangkak naik dari US$78.844 pada lelang pertama.
Bagi Indonesia, sistem kuota Singapura menjadi pelajaran berharga. Jakarta, yang juga bergulat dengan kemacetan parah, pernah menerapkan kebijakan pembatasan kendaraan seperti ganjil-genap dan ERP. Namun, belum ada langkah seketat sistem COE Singapura. Jika harga kendaraan terus melambung, daya beli masyarakat kelas menengah akan tergerus, sementara mobilitas urban menjadi semakin mahal. Pertanyaannya, akankah Indonesia berani mengadopsi sistem serupa untuk mengendalikan jumlah kendaraan di kota-kota besar?



