Pertamina dan Boeing Bersinergi Kembangkan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan
Baca dalam 60 detik
- Pertamina dan Boeing meneken nota kesepahaman untuk mengembangkan industri SAF di Indonesia, menargetkan dekarbonisasi sektor penerbangan.
- Kolaborasi ini mencakup identifikasi sumber bahan baku, pengembangan teknologi, dan dukungan kebijakan untuk mempercepat adopsi SAF.
- Proyeksi pertumbuhan lalu lintas udara Asia Tenggara sebesar 7% per tahun hingga 2044 mendorong kebutuhan akan 4.900 pesawat baru dan solusi bahan bakar ramah lingkungan.

Pertamina, perusahaan energi milik negara Indonesia, bersama raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat, Boeing, resmi menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) di Tanah Air. Nota kesepahaman yang ditandatangani pada Rabu (9/7) ini menjadi langkah konkret dalam upaya dekarbonisasi sektor aviasi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta energi hijau global.
Langkah ini tidak hanya sekadar eksplorasi teknis. Dalam pernyataan resminya, Pertamina menegaskan bahwa kerja sama ini akan menyasar tiga pilar utama: identifikasi sumber bahan baku potensial, pengembangan teknologi produksi SAF, serta dukungan terhadap perumusan kebijakan yang kondusif. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, optimistis kolaborasi ini mampu mempercepat terbentuknya industri SAF yang kompetitif dan memberikan nilai tambah signifikan bagi perekonomian Indonesia.
Boeing sendiri melihat Indonesia sebagai pemain kunci di kawasan. Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menyatakan bahwa negeri ini berpotensi menjadi pemimpin regional dalam penerbangan berkelanjutan. Proyeksi Boeing menunjukkan lalu lintas penumpang di Asia Tenggara akan tumbuh sekitar 7% per tahun hingga 2044, yang berarti kebutuhan akan hampir 4.900 pesawat baru. Adopsi SAF dinilai krusial untuk menekan emisi karbon dari pertumbuhan tersebut.
Bagi Indonesia, pengembangan SAF bukanlah hal baru. Pertamina telah meluncurkan sejumlah inisiatif, termasuk produksi dan sertifikasi SAF, penggunaan SAF oleh anak usahanya Pelita Air, serta proyek Cilacap Biorefinery yang mengolah minyak jelantah dan limbah berkelanjutan lainnya menjadi bahan bakar penerbangan. Kerja sama dengan Boeing diharapkan dapat mempercepat komersialisasi dan meningkatkan skala produksi.
Implikasi domestik dari kemitraan ini cukup luas. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, industri SAF dapat membuka lapangan kerja baru, mendorong investasi di sektor energi terbarukan, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global aviasi. Namun, tantangan tetap ada, seperti ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, biaya produksi yang masih tinggi, dan infrastruktur distribusi yang perlu disiapkan.
Ke depan, keberhasilan kolaborasi ini akan sangat bergantung pada komitmen pemerintah dalam memberikan insentif fiskal dan regulasi yang mendukung. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk menjadi pusat produksi SAF di Asia Tenggara, atau justru ketinggalan dari negara tetangga yang juga gencar mengembangkan energi hijau?



