Tuchel dan Garcia Uji Batas Tabu: Pelatih Asing di Panggung Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Dari 27 tim yang memulai turnamen dengan pelatih asing, hanya Thomas Tuchel (Jerman) dan Rudi Garcia (Perancis) yang masih bertahan di perempat final.
- Fenomena ini menandai pergeseran di negara-negara besar yang dulu enggan menyerahkan kendali tim nasional ke tangan orang luar, kini mulai menerima demi hasil.
- Jika salah satu dari mereka juara, itu akan menjadi pertama kalinya dalam 46 tahun trofi Piala Dunia diraih oleh pelatih non-lokal.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menyajikan fenomena langka: dua pelatih asing, Thomas Tuchel (Jerman) dan Rudi Garcia (Perancis), membawa Inggris dan Belgia ke perempat final. Ini adalah ujian terbesar bagi tradisi panjang yang menganggap tim nasional sebagai simbol identitas budaya, bukan sekadar ajang olahraga.
Pada awal turnamen, 27 dari 32 peserta diperkuat pelatih yang bukan warga negara asli—melonjak drastis dari hanya sembilan pada edisi 2022. Namun, dari jumlah itu, hanya Tuchel dan Garcia yang masih berpeluang mengangkat trofi. Terakhir kali seorang asing memimpin tim ke final adalah Ernst Happel (Austria) bersama Belanda pada 1978, yang kalah dari Argentina.
Inggris, yang sebelumnya gagal dengan eksperimen Sven-Goran Eriksson dan Fabio Capello, kini menuai hasil positif di bawah Tuchel. Ia tidak diminta merombak total, melainkan menyempurnakan warisan Gareth Southgate yang membawa The Three Lions ke dua final Euro dan semifinal Piala Dunia. Setelah melewati DR Kongo dan Meksiko, Inggris akan berhadapan dengan Norwegia di perempat final.
Belgia, yang akrab dengan pelatih asing—Roberto Martinez (Spanyol) membawa mereka ke peringkat ketiga pada 2018—kini dipercayakan kepada Garcia. Kemenangan telak 4-1 atas tuan rumah Amerika Serikat di babak 16 besar membuat mereka percaya diri menjelang laga melawan Spanyol, juara Eropa bertahan. Sementara itu, Brasil yang mempekerjakan Carlo Ancelotti (Italia) setahun lalu masih berjuang. Ancelotti, yang dikritik karena belum membawa hasil instan, mendapat perpanjangan kontrak hingga Piala Dunia berikutnya.
Simon Kuper, penulis Soccernomics, menilai resistensi terhadap pelatih asing berakar pada kebanggaan nasional. "Ada anggapan bahwa menggunakan pelatih asing itu seperti curang, tidak autentik," ujarnya kepada Reuters. "Memberikan pekerjaan itu kepada orang asing bisa dianggap penghinaan terhadap pelatih lokal terbaik." Namun, globalisasi telah mengikis batas taktis. "Kita hidup di era gaya internasional: fisik, perubahan posisi, sirkulasi bola cepat, dan permainan kolektif yang terorganisir," tambah Kuper.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat PSSI kerap mempertimbangkan pelatih asing untuk Timnas. Keberhasilan Tuchel dan Garcia bisa menjadi preseden bahwa identitas nasional tidak harus dikorbankan demi prestasi. Sebaliknya, kegagalan Brasil dengan Ancelotti justru mengingatkan bahwa adaptasi gaya bermain butuh waktu dan kesabaran.
Pertanyaan besarnya: akankah salah satu dari Tuchel atau Garcia memecahkan rekor 46 tahun tanpa pelatih asing juara? Atau justru tradisi kembali menang, dan final nanti diisi oleh pelatih lokal? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola global dalam satu dekade ke depan.



