Kapitalisasi Pasar Airtel Africa Tembus Rp21 Triliun, Rekor Baru di Bursa Nigeria
Baca dalam 60 detik
- Saham Airtel Africa melonjak 21% dalam sepekan, mendorong kapitalisasi pasarnya menembus N21 triliun atau setara Rp21 triliun.
- Lonjakan ini didorong oleh kinerja keuangan yang solid, termasuk pertumbuhan laba bersih 147,9% dan ekspansi pendapatan di pasar Afrika.
- Pencapaian ini menegaskan posisi Airtel Africa sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Nigeria dan menarik minat investor global.

Kapitalisasi pasar Airtel Africa Plc di Bursa Efek Nigeria (NGX) menembus angka N21 triliun (sekitar Rp21 triliun) setelah harga sahamnya melesat ke level tertinggi sepanjang masa. Pencapaian ini menandai babak baru bagi industri telekomunikasi di Afrika, sekaligus mengukuhkan Airtel sebagai perusahaan paling bernilai di bursa Nigeria.
Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, nilai pasar Airtel Africa bertambah sekitar N3,8 triliun. Sahamnya ditutup pada level N5.801,40 per lembar pada Rabu lalu, naik 10%โbatas maksimal kenaikan harian yang diizinkan di NGX. Volume transaksi pun melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya, mencapai 280.523 unit saham dengan nilai total N1,625 miliar.
Kenaikan ini tidak terjadi secara kebetulan. Kinerja keuangan Airtel Africa pada tahun fiskal 2026 yang berakhir Maret lalu menunjukkan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 210% year-on-year menjadi 18,60 sen. Laba sebelum pajak melonjak 114,7% menjadi US$1,419 miliar, sementara laba bersih naik 147,9% menjadi US$813 juta. Perusahaan juga membagikan dividen total 7,10 sen kepada pemegang saham.
Beberapa firma investasi telah menaikkan target harga saham Airtel Africa, mencerminkan optimisme terhadap prospek perusahaan. Menurut analis pasar, lonjakan harga saham ini juga dipicu oleh sentimen positif terhadap sektor telekomunikasi di Afrika, di mana penetrasi data dan layanan digital terus meningkat. Airtel Africa, yang beroperasi di 14 negara di Afrika, dianggap sebagai pemain kunci dalam ekosistem ekonomi digital benua tersebut.
Bagi Indonesia, pencapaian Airtel Africa memberikan gambaran tentang potensi pasar telekomunikasi di negara berkembang. Indonesia, dengan populasi besar dan penetrasi internet yang masih bertumbuh, memiliki karakteristik serupa. Namun, kapitalisasi pasar operator telekomunikasi di Indonesia, seperti Telkomsel atau Indosat, masih jauh di bawah Airtel Africa. Hal ini menunjukkan bahwa valuasi perusahaan telekomunikasi di Afrika mungkin lebih dihargai oleh investor global karena potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.
Ke depan, Airtel Africa diperkirakan akan terus diuntungkan oleh ekspansi layanan data dan mobile money. Namun, tantangan seperti fluktuasi mata uang dan regulasi di berbagai negara tetap menjadi risiko. Pertanyaan yang muncul: apakah reli saham ini berkelanjutan, atau hanya sekadar euforia pasar jangka pendek?



