Arthur Fery, Remaja Wimbledon yang Lahir dari Mimpi Tak Terduga
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 114 dunia, Arthur Fery, melaju ke semifinal Wimbledon setelah mengalahkan unggulan kesembilan Flavio Cobolli.
- Fery, yang tumbuh di dekat Centre Court, menjadi pemain wildcard pertama yang mencapai semifinal sejak Goran Ivanisevic pada 2001.
- Kisahnya menyoroti perpaduan unik antara latar belakang Prancis dan pendidikan AS, serta potensi mengubah wajah tenis Inggris.

Arthur Fery, petenis berusia 23 tahun yang lahir di pinggiran Paris dan besar di London, menorehkan sejarah di Wimbledon 2024 dengan menembus semifinal. Ia menjadi pemain wildcard pertama yang mencapai babak tersebut sejak Goran Ivanisevic pada 2001. Kemenangan straight set 6-4, 7-6(4), 6-0 atas unggulan kesembilan Flavio Cobolli di Centre Court, Rabu (8/7), mengukuhkan namanya sebagai fenomena tenis Inggris.
Fery, yang saat ini menempati peringkat 114 dunia, hanya memiliki dua kemenangan Grand Slam sebelumnya. Namun, perjalanannya di Wimbledon tahun ini terasa seperti skenario film yang sulit dipercaya. Ia tumbuh dalam jarak berjalan kaki dari Centre Court, bersekolah di King's College Wimbledon, dan mengaku tidak pernah ragu membela Inggris meskipun sempat mewakili Prancis di level junior. "Dia benar-benar anak Wimbledon," ujar ayahnya, Loic Fery, kepada L'Equipe.
Kunci ketenangan Fery terletak pada pendekatannya yang tidak biasa. Alih-alih langsung menjadi profesional, ia memilih jalur kuliah di Stanford University, mengambil jurusan sains, teknologi, dan masyarakat. Di sana, ia menjadi pemain tenis perguruan tinggi nomor satu di Amerika Serikat. "Saya senang tidak punya waktu dua minggu sebelum pertandingan berikutnya. Jadwal padat itu bagus," kata Fery. "Saya hanya tetap dalam gelembung saya dan terus berjalan."
Dukungan kerajaan Inggris juga mengalir deras. Ratu Camilla menyaksikan langsung dari Royal Box dan memberikan ucapan selamat, sementara Putri Kate hadir pada pertandingan sebelumnya. Legenda tenis Roger Federer pun mengangguk setuju saat menyaksikan kemenangan lima set Fery atas Grigor Dimitrov di babak 16 besar. "Ratu menunggu saya di akhir pertandingan. Dia memberi selamat. Saya bilang betapa terhormatnya bermain di depannya. Dia hanya berkata, 'Selamat, teruslah berjuang'," kenang Fery.
Di semifinal, Jumat (10/7), Fery akan menghadapi juara Prancis Terbuka dan unggulan kedua Alexander Zverev. Jika menang, ia akan bermain di final pada hari ulang tahunnya yang ke-24, Minggu (12/7). Peluangnya untuk menyamai prestasi Ivanisevic โsatu-satunya pemain yang memenangi Wimbledon sebagai wildcardโ menjadi sorotan utama. Namun, Zverev jelas merupakan ujian berat setelah Fery mengalahkan unggulan kesembilan.
Bagi Indonesia, kisah Fery memberikan pelajaran tentang pentingnya pengembangan bakat muda melalui jalur pendidikan. Sistem tenis Inggris yang memadukan akademi dan universitas, seperti yang ditempuh Fery di Stanford, bisa menjadi referensi bagi pembinaan atlet di Tanah Air. Selain itu, keberhasilan Fery sebagai pemain wildcard menunjukkan bahwa peringkat bukanlah segalanya di turnamen Grand Slam โmental dan dukungan penonton tuan rumah bisa menjadi faktor penentu.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Fery mengulang keajaiban Ivanisevic? Atau akankah Zverev menghentikan laju pemain muda yang lahir dari mimpi tak terduga ini? Satu hal pasti, Wimbledon 2024 telah memberikan satu kisah yang akan dikenang lama.



