Naira Terus Melemah di Tengah Lonjakan Transaksi Valas Antarbank
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira di pasar resmi turun ke N1.379 per dolar AS setelah volume transaksi antarbank melonjak 399% dalam sehari.
- Tekanan permintaan valas untuk pembayaran internasional menjadi penyebab utama pelemahan, meskipun cadangan devisa Nigeria tercatat naik.
- Analis memperkirakan naira bisa menguat di semester II 2026 didorong peningkatan produksi minyak dan cadangan devisa yang solid.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi di pasar valuta asing resmi pada Rabu (10/5/2026) setelah lonjakan tajam transaksi antarbank menggerus pasokan dolar AS yang tersedia. Berdasarkan data harian Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar spot resmi melemah ke N1.379,0675 per dolar AS dari posisi sebelumnya N1.375,7463. Dalam sepekan, mata uang Negeri Afrika Barat itu telah kehilangan sekitar N9 dari level awal pekan di N1.370,1904.
Peningkatan permintaan valas untuk pembayaran barang dan jasa luar negeri menjadi biang keladi pelemahan tersebut. Data pasar menunjukkan transaksi di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM) terjadi pada kisaran N1.376 hingga N1.387 per dolar. Meskipun likuiditas di pasar tergolong tinggi, volume dolar yang tersedia tidak mampu mengejar lonjakan kebutuhan impor.
Volume transaksi antarbank melonjak 399% dalam sehari menjadi 208,094 juta dolar AS, dari sebelumnya hanya 41,736 juta dolar. Jumlah kesepakatan (deal) juga meningkat drastis dari 47 menjadi 150 transaksi. Lonjakan ini mencerminkan tekanan permintaan yang kuat dari korporasi yang membutuhkan dolar untuk kewajiban internasional mereka.
Meskipun tekanan jangka pendek masih terasa, sejumlah analis pasar keuangan tetap optimistis terhadap prospek naira pada paruh kedua 2026. Keyakinan ini ditopang oleh pertumbuhan cadangan devisa Nigeria yang mencapai 51,642 miliar dolar AS, meningkat tipis dari posisi sebelumnya 51,579 miliar dolar. Para analis dari Broadstreet memperkirakan peningkatan produksi minyak mentah akan mengompensasi potensi penurunan harga minyak global, sehingga menjaga aliran devisa ke kas negara.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan membombardir Iran dan memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz. Ancaman itu muncul sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi jalur strategis tersebut. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak 4,4% menjadi 73,52 dolar per barel, sementara Brent naik 5,2% ke 78,02 dolar per barel.
Kenaikan harga minyak ini menjadi angin segar bagi Nigeria yang sangat bergantung pada ekspor minyak. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan global, termasuk nilai tukar naira. Meski Trump kemudian meredakan ketegangan dengan menyatakan tidak percaya akan terjadi perang skala penuh, pasar tetap waspada terhadap kemungkinan eskalasi.
Bagi Indonesia, dinamika naira dan harga minyak ini relevan mengingat Indonesia juga merupakan importir minyak netto. Kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan memberi tekanan pada rupiah. Namun, cadangan devisa Indonesia yang lebih besar dan kebijakan moneter yang ketat diharapkan mampu meredam gejolak. Pelaku pasar di Tanah Air perlu mencermati perkembangan di Nigeria sebagai indikator sentimen pasar emerging market secara umum.
Ke depan, pergerakan naira akan sangat tergantung pada konsistensi peningkatan produksi minyak Nigeria dan kemampuan bank sentral mengelola likuiditas valas. Jika harga minyak tetap tinggi dan produksi meningkat, naira berpotensi menguat. Namun, jika permintaan impor terus melonjak tanpa diimbangi pasokan dolar yang memadai, tekanan depresiasi masih akan berlanjut. Pertanyaan besarnya, mampukah Nigeria mempertahankan momentum pertumbuhan cadangan devisa di tengah ketidakpastian global?



