Mengundurkan Diri dari Kompetisi Internasional, Atlet Paralimpiade Tersukses Inggris Pilih Perjuangkan Masa Depan Para-Sport
Baca dalam 60 detik
- Dame Sarah Storey, peraih 30 medali Paralimpiade, pensiun dari ajang internasional setelah 35 tahun berkarier.
- Ia menilai perkembangan para-sport mandek pasca-London 2012 dan ingin berkontribusi lebih besar di luar arena.
- Keputusan ini membuka ruang bagi atlet muda dan menyoroti tantangan keberlanjutan gerakan Paralimpiade global.

Dame Sarah Storey, atlet Paralimpiade paling berprestasi dalam sejarah Inggris Raya, secara resmi mengakhiri karier internasionalnya. Perempuan 48 tahun yang telah mengoleksi 19 medali emas Paralimpiade ini memilih tidak tampil di Los Angeles 2028 demi fokus mendorong perbaikan sistemik dalam olahraga difabel.
Keputusan itu diumumkan Storey beberapa hari setelah Olimpiade Paris 2024 usai. Ia mengakui secara fisik masih mampu bersaing, tetapi merasa dampak yang bisa ia berikan akan lebih besar jika bekerja di luar lintasan. "Saya benar-benar yakin bisa berada di garis start Los Angeles dan mempertahankan dua gelar dari Paris. Namun, saya percaya saya bisa menjadi pengaruh yang lebih positif dengan mengambil peran dan peluang baru yang memungkinkan saya berjuang untuk para-sport," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Storey menyoroti stagnasi yang dialami para-sport sejak London 2012. Menurutnya, momentum yang terbangun saat Inggris menjadi tuan rumah tidak dimanfaatkan secara optimal. "Tahun-tahun di antara setiap perhelatan tidak digunakan dengan cukup baik untuk menciptakan momentum yang saya dan orang lain harapkan. Saya melihat ini sebagai tahap kritis; banyak area para-sport yang masih perlu perhatian," tegasnya.
Kritik Storey diamini oleh Lord Sebastian Coe, presiden World Athletics yang juga mantan ketua panitia penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade London 2012. Coe menyatakan isu yang diangkat Storey sangat relevan. "Para-sport adalah bagian yang sangat signifikan dari London 2012 dan saya tetap bangga dengan apa yang kami capai. Namun, masalah yang diangkat Dame Sarah saat pensiun sangat saya rasakan—olahraga harus terus mengambil langkah kecil tapi mantap agar apa yang telah terjadi sebelumnya tidak sia-sia," kata Coe.
Karier Storey dimulai di kolam renang saat ia lahir tanpa tangan kiri yang berfungsi penuh. Dalam empat Paralimpiade pertamanya (1992–2004), ia mengumpulkan 16 medali renang. Gangguan infeksi telinga pada 2005 memaksanya beralih ke sepeda, dan sejak Beijing 2008 ia mendominasi nomor balap sepeda. Di London 2012, ia menyabet empat emas di hadapan publik sendiri. Tak hanya itu, pada 2010 ia menjadi atlet para kedua yang berlaga di Commonwealth Games melawan atlet non-difabel, finis keenam di nomor pursuit individu.
Yang menarik, delapan gelar Paralimpiade terakhir Storey diraih setelah ia menjadi ibu—putri Louisa lahir pada 2013 dan putra Charlie pada 2017. Ia mengaku bersyukur dapat menekuni olahraga selama 35 tahun, termasuk berkontribusi pada kemajuan olahraga perempuan dan para-sport. "Saya merasa sangat bangga telah berkontribusi, bersama banyak orang luar biasa, terhadap kemajuan yang kita saksikan dan nikmati selama ini," kenangnya.
Keputusan Storey pensiun dari kompetisi internasional menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan para-sport di Inggris dan dunia. British Paralympic Association belum memberikan tanggapan resmi. Namun, langkah Storey membuka peluang bagi atlet muda untuk muncul, sekaligus menekankan urgensi perbaikan tata kelola, pendanaan, dan liputan media terhadap olahraga difabel. Apakah para-sport mampu mempertahankan warisan London 2012 tanpa figur sebesar Storey di arena?



