Mahasiswa Bonn Terjemahkan Kisah Korban Bom Atom Hiroshima ke Bahasa Arab dan Jerman
Baca dalam 60 detik
- Sejak 2014, mahasiswa pascasarjana Universitas Bonn menerjemahkan video kesaksian korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki sebagai bagian dari proyek global NET-GTAS.
- Proyek ini tidak hanya menghasilkan 14 versi bahasa Jerman dan 9 versi bahasa Arab, tetapi juga menjadi metode pembelajaran yang membangun empati dan pemahaman sejarah.
- Inisiatif ini menginspirasi diskusi tentang perlucutan nuklir dan dapat menjadi model bagi pendidikan perdamaian di Indonesia.

Mahasiswa pascasarjana di Universitas Bonn, Jerman, telah menerjemahkan video kesaksian para penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki ke dalam bahasa Jerman dan Arab sejak 2014. Inisiatif yang dinamakan Proyek Hiroshima-Nagasaki ini telah menghasilkan 14 versi bahasa Jerman dan sembilan versi bahasa Arab, menjembatani jarak geografis dan bahasa untuk melestarikan memori sejarah yang semakin pudar.
Proyek ini merupakan bagian dari jaringan global yang dipimpin oleh Network of Translators for the Globalization of Testimonies of A-Bomb Survivors (NET-GTAS), organisasi yang berbasis di Kyoto, Jepang. NET-GTAS didirikan pada 2014 oleh staf pengajar Universitas Kajian Asing Kyoto, dengan tujuan menerjemahkan video kesaksian yang dipublikasikan di situs Memorial Hall Perdamaian Nasional Hiroshima dan Nagasaki. Universitas Bonn bergabung pada tahun yang sama, menjadikan proyek ini sebagai bagian dari kurikulum pengajaran bahasa Jepang.
Yang menarik, proses penerjemahan tidak sekadar mengalihbahasakan kata per kata. Mahasiswa harus memahami konteks sosial Jepang pada masa perang, termasuk istilah-istilah khusus seperti "tatemono sokai"—pembongkaran rumah untuk membuat sekat api saat serangan udara. Kesulitan ini justru menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mendalami pengalaman traumatis para korban. Menurut Naoko Tamura, dosen pengampu mata kuliah di Departemen Studi Jepang dan Korea, para mahasiswa mendengarkan kesaksian dengan penuh konsentrasi, berusaha mendekati pengalaman yang tak terbayangkan dari para penyintas.
Pendekatan pendidikan yang digunakan adalah "service-learning", di mana kegiatan akademik dihubungkan dengan aksi sosial yang bermakna. Tamura menekankan bahwa kesaksian para penyintas memiliki kekuatan membangkitkan empati. "Rasa percaya diri dan pencapaian mahasiswa sangat tinggi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa proses penerjemahan ibarat kerja sama antara pencerita dan pendengar. Mahasiswa yang merasa dekat dengan para penyintas kemudian menjadi pencerita baru bagi generasi berikutnya.
Sejak 2017, mahasiswa juga menyelenggarakan pameran poster yang menyajikan riset mereka tentang kerusakan akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, serta isu-isu global seputar perlucutan senjata nuklir. Pameran ini terbuka untuk umum dan tahun lalu, sebuah kelompok warga yang merencanakan acara peringatan 6 Agustus—hari pengeboman Hiroshima—meminjam poster-poster tersebut. Pameran musim panas berikutnya dijadwalkan pada 15 Juli, dan sekitar 80 siswa SMA setempat telah menyatakan minat untuk berpartisipasi.
Bagi Indonesia, proyek ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman nuklir global, upaya pelestarian memori sejarah seperti ini dapat menjadi model bagi pendidikan perdamaian. Indonesia, yang pernah mengalami konflik bersenjata dan memiliki sejarah perjuangan kemerdekaan, dapat mengadaptasi metode serupa untuk mendokumentasikan kesaksian para veteran atau korban pelanggaran HAM masa lalu. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam proyek lintas budaya ini menunjukkan bahwa generasi muda dapat menjadi agen perdamaian melalui pendekatan akademik yang kreatif.
Ke depan, proyek Hiroshima-Nagasaki berpotensi memperluas jangkauan ke lebih banyak bahasa dan negara. Pertanyaannya, mampukah inisiatif serupa tumbuh di Indonesia, di mana kesadaran akan sejarah dan perdamaian masih perlu terus dipupuk?



