Temasek Catat Portofolio Rp 6.000 Triliun, Konflik Timur Tengah Gerus Kinerja
Baca dalam 60 detik
- Nilai portofolio bersih Temasek naik 10,5% menjadi S$518 miliar per Maret 2026, didorong emiten Singapura dan divestasi strategis.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menekan pasar publik sehingga potensi kenaikan portofolio bisa 2% lebih tinggi tanpa dampak tersebut.
- Temasek akan memperbesar alokasi ke AI, infrastruktur energi, dan kredit swasta, dengan Amerika Serikat tetap menjadi tujuan investasi utama.

Nilai portofolio bersih Temasek Holdings menembus S$518 miliar (sekitar Rp 6.000 triliun) pada akhir Maret 2026, tumbuh 10,5% dibanding tahun sebelumnya. Namun, konflik berkepanjangan di Timur Tengah membuat laju pertumbuhan itu lebih lambat dari capaian 11,9% pada periode 2024–2025.
Dalam pernyataan resmi Rabu (8/7), raksasa investasi milik negara Singapura itu mengungkapkan bahwa kinerja emiten lokal—seperti DBS, Singtel, dan Singapore Airlines—serta keuntungan dari divestasi menjadi motor utama pertumbuhan. Meski begitu, CEO Temasek Dilhan Pillay Sandrasegara menyebut lingkungan saat ini sebagai yang paling kompleks dalam lima dekade terakhir. “Kita tidak hanya hidup di dunia VUCA, tapi di dunia polikrisis,” ujarnya dalam sambutan video.
Pillay menambahkan bahwa hingga akhir Februari, imbal hasil portofolio pasar publik masih “sangat memuaskan”. Namun, eskalasi konflik Iran dan ketidakpastian global membuat nilai portofolio bersih berpotensi lebih tinggi 2% jika tidak ada gangguan tersebut. Meski demikian, valuasi pasar publik sempat pulih pada April–Mei, dan sebagian besar kerugian berhasil direbut kembali.
Lebih dari 40% portofolio Temasek ditempatkan di perusahaan Singapura. Divestasi besar tahun ini meliputi penjualan Axia Vegetable Seeds (Belanda), Schneider Electric India, dan pelepasan saham pengendali di Global Health Exchange (AS). Di sisi lain, perusahaan mengucurkan S$51 miliar untuk investasi baru dan menerima S$31 miliar dari divestasi, sehingga investasi bersih mencapai S$20 miliar.
Ke depan, Temasek berencana meningkatkan eksposur pada tiga sektor: kecerdasan buatan (AI), infrastruktur inti-plus (core-plus infrastructure), dan kredit swasta. Infrastruktur inti-plus mencakup aset transisi energi dan infrastruktur digital yang menawarkan imbal hasil sedikit lebih tinggi dibanding proyek tradisional. “Kami melihat peluang menarik di AS, terutama di rantai nilai AI, didukung pasar modal yang dalam,” tulis manajemen Temasek.
Alokasi investasi ke Amerika terus bertambah, dari 24% tahun lalu menjadi 26% tahun ini. Sementara itu, eksposur ke China turun dari 18% menjadi 17%, dan India dari 8% menjadi 7%. Meski ekspor China kuat, konsumsi domestik masih timpang akibat masalah struktural di pasar properti. “Kami tidak bisa berinvestasi dengan asumsi bahwa masalah itu akan berbalik dengan sendirinya,” ujar CEO Temasek Global Investments Chia Song Hwee. Oleh karena itu, Temasek memilih fokus pada sektor yang tidak bergantung pada belanja konsumen atau properti, seperti bioteknologi, robotika, AI, dan manufaktur canggih.
Bagi Indonesia, pergeseran portofolio Temasek ini patut dicermati. Sebagai investor aktif di kawasan, Temasek selama ini turut mendanai sejumlah startup dan proyek infrastruktur di Indonesia. Dengan makin besarnya alokasi ke AS dan sektor teknologi tinggi, peluang pendanaan untuk perusahaan rintisan lokal mungkin akan lebih selektif. Namun, fokus Temasek pada energi transisi dan digital infrastructure bisa menjadi celah bagi Indonesia yang tengah gencar mengembangkan ekosistem hijau dan digital.
Pertanyaan besarnya, akankah ketegangan geopolitik global terus menggerus imbal hasil portofolio Temasek di tahun-tahun mendatang? Ataukah strategi diversifikasi ke AI dan infrastruktur akan mampu mengompensasi risiko tersebut?



