Sekolah di Jepang Lawan Krisis Literasi dengan 'Bibliobattle', Hasilnya Memuaskan
Baca dalam 60 detik
- Kitakyushu menjadikan AI dan membaca sebagai prioritas pendidikan 2026, namun 30% siswa SMP tidak membaca buku sama sekali.
- SMP Ishimine menerapkan Bibliobattle, kompetisi presentasi buku yang meningkatkan peminjaman perpustakaan empat kali lipat dalam dua tahun.
- Kota ini menargetkan penurunan angka nonbaca hingga 8% untuk SMP pada 2028, dengan pendekatan integratif lintas mata pelajaran.

Di tengah gempuran gawai dan media sosial, kebiasaan membaca di kalangan pelajar Jepang terus merosot. Pemerintah Kota Kitakyushu, Jepang barat daya, bahkan menjadikan "kecerdasan buatan (AI) dan membaca" sebagai pilar utama kebijakan peningkatan mutu akademik tahun fiskal 2026. Namun, ironisnya, sekitar 30 persen siswa sekolah menengah pertama (SMP) di kota itu mengaku tidak membaca satu buku pun dalam sebulan.
Kota ini meyakini bahwa kemampuan menilai, memahami bacaan, dan berpikir kritis—yang esensial untuk menggunakan AI secara efektif—hanya bisa dipupuk melalui kebiasaan membaca. Sayangnya, data survei Perpustakaan Pusat Kitakyushu pada 2024 menunjukkan angka "nonbaca" (anak yang tidak membaca satu buku pun per bulan, termasuk buku elektronik) mencapai 13 persen di tingkat SD, 33,7 persen di SMP, dan 41 persen di SMA.
Untuk mengatasi krisis ini, sejumlah sekolah mulai bereksperimen dengan pendekatan baru. Salah satu yang paling inovatif adalah SMP Negeri Ishimine di Distrik Wakamatsu. Sekolah ini menggelar "Bibliobattle ala Ishimine", sebuah kompetisi presentasi buku yang dirancang agar mudah diikuti bahkan oleh siswa yang tidak percaya diri membaca. Dalam babak penyisihan kelas akhir Mei lalu, siswa kelas satu dibagi dalam kelompok kecil dan diminta memperkenalkan buku pilihan mereka—bukan manga—dalam waktu tiga menit, dengan bantuan lembar presentasi yang sudah disiapkan.
Yang menarik, lembar presentasi itu merupakan hasil kolaborasi dua mata pelajaran: di sisi kiri, siswa menulis pengantar buku yang dipelajari di kelas bahasa Jepang; di sisi kanan, mereka menuangkan imajinasi tentang buku tersebut melalui ilustrasi yang dibuat di kelas seni. Perwakilan terbaik dari tiap kelas kemudian maju ke kompetisi tingkat sekolah yang digelar di aula olahraga, dan seluruh siswa memilih "buku juara".
Haruka Sato (13), salah satu peserta, mengaku tertarik membaca Yasutaka Tsutsui, "Tabi no Ragosu", setelah melihat ilustrasi sampulnya. "Membaca teks terasa membosankan, dan saya bukan tipe pembaca. Tapi dengan buku ini, saya bisa membayangkan adegannya dan terserap ke dalam cerita. Perbedaan nilai-nilai antarkarakter sangat menarik," ujarnya.
Guru Ryoko Sato (46) menambahkan bahwa program ini tidak hanya mengasah keterampilan membaca, mengorganisasi, dan berekspresi. "Pengalaman bercerita tentang sesuatu yang mereka sukai dan didengarkan oleh orang lain juga meningkatkan harga diri siswa," katanya.
Wakil Kepala Sekolah Akemi Sakamoto (56), yang lama berkecimpung dalam promosi membaca, mengamati bahwa setiap siswa memiliki cara berbeda dalam mendekati buku. "Dengan mendekatkan buku kepada mereka di lingkungan sekolah, atmosfer yang membuat mereka perlahan akrab dengan bacaan mulai terbentuk," jelasnya. Keberhasilan ini juga didukung oleh pajangan "Choko Books"—koleksi buku tematik yang dipilih guru, komite perpustakaan, dan kepala sekolah—serta lembar presentasi Bibliobattle yang ditempel di sekitar sekolah untuk memicu minat siswa lain.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Inisiatif seperti Bibliobattle bisa menjadi inspirasi untuk mengintegrasikan kegiatan membaca dengan mata pelajaran lain, seperti seni dan bahasa, serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan. Namun, tantangan infrastruktur dan kesenjangan akses buku di daerah perlu menjadi perhatian jika konsep serupa hendak diadopsi.
Kei Nagata, kepala seksi promosi pendidikan di dewan pendidikan setempat, menegaskan komitmennya. "Kami ingin memperbanyak tempat dan kesempatan bagi anak-anak untuk bersentuhan dengan buku, serta menyampaikan nilai membaca dalam menumbuhkan imajinasi dan cara berpikir yang beragam." Pertanyaan besarnya: mampukah pendekatan kreatif semacam ini menjawab krisis literasi yang juga melanda negara-negara lain, termasuk Indonesia?



