Mengusir Hantu Oppenheimer: Christopher Nolan Temukan Pelarian di 'The Odyssey'
Baca dalam 60 detik
- Christopher Nolan mengakui bahwa 'Oppenheimer' meninggalkan rasa putus asa dan horor, mendorongnya mencari proyek baru.
- Film epik 'The Odyssey' menjadi pelarian Nolan, namun ia justru menemukan kesamaan tematik dengan film-film sebelumnya, termasuk trilogi 'Dark Knight'.
- Nolan berharap penggunaan kamera IMAX 70 mm di 'The Odyssey' dapat menginspirasi sineas lain, seperti Ryan Coogler, untuk mengadopsi teknologi serupa.

Christopher Nolan, sutradara papan atas Hollywood, mengungkapkan bahwa film epik terbarunya, The Odyssey, lahir dari keinginan untuk melepaskan diri dari beban psikologis yang ditinggalkan oleh Oppenheimer (2023). Dalam wawancara dengan USA Today, Nolan menggambarkan proses pembuatan film tentang bom atom itu sebagai pengalaman yang hampir seperti film horor—gelap, mengganggu, dan meninggalkan rasa putus asa yang mendalam.
“Saya keluar dari Oppenheimer dengan kombinasi aneh antara putus asa dan optimisme,” ujar Nolan. “Film itu hampir seperti film horor bagi saya. Subjek yang sangat mengganggu untuk dijalani selama beberapa tahun: berpikir tanpa henti tentang perang nuklir dan apa yang dibawa manusia ke meja perundingan. Saya cukup senang bisa keluar dari itu.” Namun, ketika mulai mengerjakan The Odyssey, adaptasi dari epos Homer, Nolan menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya berhasil melarikan diri. “Saat Anda melihat The Odyssey, Anda mulai menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya berhasil melarikan diri,” katanya.
Film yang dibintangi Matt Damon, Anne Hathaway, dan Tom Holland ini bukan sekadar pelarian, melainkan juga cerminan dari kegelisahan Nolan. Ia menemukan bahwa The Odyssey memiliki kesamaan tematik dengan trilogi Dark Knight yang dibintangi Christian Bale. “Ini tentang menciptakan ikon yang dapat dihubungkan namun lebih besar dari kehidupan. Ketiga film itu adalah eksperimen berkelanjutan dalam mencoba menjadi manusia, dan datang ke The Odyssey, itu adalah keseimbangan yang sama,” jelas Nolan. “Di permukaan, saya tidak berpikir akan ada banyak hubungan, tetapi apa yang saya pelajari dari membuat film Dark Knight sangat membantu dalam proyek ini.”
Nolan juga mengungkapkan bahwa film kontroversial Martin Scorsese, The Last Temptation of Christ (1988), menjadi inspirasi teknis dan naratif. “Kami memutar beberapa film berbeda dalam pra-produksi, dan film itu khususnya kami dapatkan cetakannya. Ini film yang menakjubkan dan mengejutkan. Ada hal-hal teknis yang dilakukan Scorsese yang sangat menginspirasi, tetapi lebih dari itu, sosok Yesus dan apa yang dia lakukan dengannya sangat menantang penonton. Itu sangat menginspirasi dari sudut pandang Odysseus: Anda ingin setia pada semua kesulitan karakter, dan itulah yang dilakukan Temptation,” kata Nolan.
Dalam konteks industri perfilman global, langkah Nolan menggunakan IMAX 70 mm untuk seluruh film menjadi terobosan. Ia berharap ini dapat mendorong sineas lain, seperti Ryan Coogler (Sinners), untuk mengikuti jejaknya. “Ketika Anda bertemu dengan pemilik bioskop dan berbicara dengan mereka—seperti yang sering saya lakukan—ada energi positif saat ini untuk benar-benar memberi penonton pengalaman yang tidak bisa mereka dapatkan di rumah. Saya suka menonton film seperti itu. Sekarang saya ingin melihat seseorang seperti Ryan syuting seluruh film dalam IMAX. Itulah kesenangannya! Kami telah menunjukkan itu mungkin—sekarang saya ingin melihat film orang lain dilakukan dengan cara itu,” ujar Nolan.
Bagi penonton Indonesia, The Odyssey menawarkan tontonan epik yang menggabungkan teknologi sinematik mutakhir dengan narasi klasik yang abadi. Pertanyaan yang muncul: akankah bioskop-bioskop di Tanah Air siap menayangkan film dengan format IMAX 70 mm yang membutuhkan proyektor khusus? Ataukah kita hanya akan menikmati versi digital yang mungkin mengurangi sebagian dari visi Nolan? Yang jelas, perjalanan Odysseus versi Nolan akan menjadi salah satu film yang paling dinantikan dalam beberapa tahun ke depan.



