Langkah Kaki Lebih Cepat di Usia 80-an Kaitkan Risiko Penurunan Kognitif Hingga Setengahnya
Baca dalam 60 detik
- Orang berusia 80 tahun ke atas dengan kecepatan jalan alami lebih cepat memiliki risiko penurunan kognitif sekitar 50% lebih rendah dibandingkan mereka yang berjalan lambat.
- Kecepatan berjalan mencerminkan koordinasi sistem saraf, otot, dan kardiovaskular; perlambatan bisa menjadi penanda awal gangguan neurologis sebelum gejala memori muncul.
- Temuan ini memperkuat potensi kecepatan jalan sebagai alat skrining murah dalam pemeriksaan rutin, meski belum terbukti sebagai penyebab langsung penurunan kognitif.

Lansia yang mempertahankan langkah kaki alami lebih cepat cenderung memiliki otak lebih sehat dan separuh lebih kecil kemungkinan mengalami penurunan kognitif dibandingkan mereka yang berjalan lambat. Temuan dari studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology ini menegaskan bahwa kecepatan berjalan bukan sekadar soal kebugaran fisik, melainkan juga cerminan kesehatan otak di usia senja.
Peneliti dari Renaissance School of Medicine, Stony Brook University, mengikuti partisipan berusia 80 tahun ke atas dari tiga database internasional: Health and Retirement Study International Network of Studies (HRS-INS), LonGenity Study, dan RUSH Memory Aging Project. Mereka mengelompokkan partisipan menjadi "super movers" (kecepatan jalan cepat) dan "nonsuper movers" (kecepatan jalan lambat), lalu membandingkan hasil tes kognitif, pemindaian MRI otak, serta pemeriksaan patologi otak pascamati.
Hasilnya, kelompok super movers memiliki risiko penurunan kognitif sekitar 50% lebih rendah. Yang mengejutkan, mereka tetap mempertahankan fungsi kognitif yang lebih baik meskipun memiliki tingkat patologi otak terkait demensia yang serupa dengan kelompok lambat. "Ini menunjukkan adanya mekanisme resiliensi yang membantu mempertahankan fungsi otak," ujar Joe Verghese, MD, MS, FRCPI, profesor dan ketua neurologi di Renaissance School of Medicine, dalam pernyataannya.
Verghese menekankan bahwa kecepatan jalan bukanlah alat diagnosis demensia, melainkan indikator yang bisa digunakan dokter untuk memutuskan perlunya evaluasi kognitif lebih lanjut. "Perlambatan langkah yang disadari lansia atau dokter, terutama jika disertai keluhan memori, harus mendorong pemeriksaan klinis yang lebih komprehensif," katanya. Ia juga mengingatkan bahwa faktor seperti gangguan sendi, penyakit jantung, dan kebugaran umum perlu dipertimbangkan saat menafsirkan kecepatan jalan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat populasi lansia terus bertambah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai 11,75% dari total populasi, dan diperkirakan terus meningkat. Dengan keterbatasan akses terhadap pemindaian otak atau tes kognitif mahal, pengukuran kecepatan jalan bisa menjadi alat skrining awal yang praktis di puskesmas atau posyandu lansia. Namun, perlu diingat bahwa gaya hidup aktif secara keseluruhan—termasuk olahraga aerobik, latihan kekuatan, kontrol tekanan darah dan gula darah, serta stimulasi sosial—tetap menjadi pilar utama menjaga kesehatan otak.
Peneliti mengakui bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga tidak bisa menyimpulkan hubungan sebab-akibat. "Saya memandang jalan lambat lebih sebagai penanda proses biologis yang mendasari penuaan fisik dan kognitif, bukan penyebab langsung penurunan kognitif," jelas Verghese. Meski demikian, temuan ini memperkuat bukti bahwa kecepatan jalan dapat menjadi petunjuk awal yang murah dan mudah untuk mengidentifikasi lansia berisiko tinggi.
Ke depan, riset lebih lanjut diperlukan untuk menguji apakah intervensi yang meningkatkan kecepatan jalan—misalnya latihan keseimbangan atau fisioterapi—juga bisa menurunkan risiko penurunan kognitif. Sampai saat itu tiba, menjaga mobilitas dan tetap aktif secara fisik adalah langkah bijak yang bisa dilakukan siapa pun, tanpa perlu menunggu bukti kausalitas yang lebih kuat.



