Cody Garbrandt Desak UFC Perhatikan Nasib Petarung Pensiun: 'Sistem Kontrak Mandiri Bikin Rentan'
Baca dalam 60 detik
- Mantan juara kelas bantam UFC, Cody Garbrandt, menuntut organisasi memberikan jaminan kesehatan dan dana pensiun bagi petarung yang akan gantung sarung tinju.
- Petarung berstatus kontraktor independen tidak mendapat tunjangan seperti asuransi jangka panjang atau 401K, berbeda dengan atlet di liga olahraga lain.
- Kasus Dustin Poirier yang kesulitan beradaptasi pasca-pensiun menjadi contoh nyata betapa rentannya kondisi finansial dan mental para mantan petarung UFC.

Menjelang laga ke-23 di UFC 329 akhir pekan ini, Cody Garbrandt kembali menyuarakan kritik tajam terhadap model bisnis UFC yang dinilai abai terhadap kesejahteraan petarung pasca-pensiun. Mantan juara kelas bantam itu mendesak organisasi pimpinan Dana White untuk segera merombak sistem kontrak yang selama ini menempatkan petarung sebagai kontraktor independen tanpa hak atas pensiun atau asuransi kesehatan jangka panjang.
Garbrandt, yang kini berusia 35 tahun, mengaku resah membayangkan masa depan setelah tidak lagi bertarung. โSaya tidak tahu berapa tahun lagi bisa berada di olahraga ini. Saya hanya berdoa agar tetap sehat dan bisa pergi dengan cara saya sendiri,โ ujarnya kepada MMA Junkie. Menurutnya, banyak petarung terpaksa terus berlaga meski cedera karena kebutuhan finansial, tanpa jaring pengaman setelah karier usai.
Garbrandt mencontohkan nasib Dustin Poirier, petarung yang pensiun tahun lalu setelah 16 tahun berkarier. Poirier baru-baru ini tersandung kasus dugaan mabuk di depan umum. โSaya terenyuh memikirkannya. Orang-orang menghujatnya karena satu kesalahan, padahal dia sudah melakukan banyak hal luar biasa di dalam dan luar oktagon,โ kata Garbrandt. Ia menilai media terlalu cepat menghakimi tanpa memahami tekanan psikologis yang dialami mantan petarung.
Kritik Garbrandt menyoroti ketimpangan struktural di UFC dibandingkan liga olahraga profesional lain di Amerika Serikat. Atlet NBA atau NFL, misalnya, mendapatkan paket pensiun dan asuransi kesehatan yang memadai karena berstatus karyawan. Sebaliknya, model kontraktor independen UFC membuat petarung menanggung sendiri biaya pelatihan, cedera, dan persiapan pertarungan tanpa perlindungan sosial.
Di Indonesia, isu kesejahteraan atlet juga menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang berlaga di ajang internasional seperti ONE Championship atau UFC. Minimnya regulasi yang mewajibkan promotor menyediakan dana pensiun atau asuransi jangka panjang membuat banyak atlet mixed martial arts (MMA) Tanah Air rentan mengalami nasib serupa. โIni bukan hanya masalah UFC, tapi juga industri MMA global. Atlet adalah aset utama, tetapi sering diperlakukan sebagai komoditas,โ ujar pengamat olahraga dari Universitas Indonesia, Andi Fachruddin.
Garbrandt berharap UFC belajar dari kasus Poirier dan mulai menyediakan program transisi karier bagi petarung yang akan pensiun. โMenakutkan meninggalkan sesuatu yang aman, yang sudah Anda kejar seumur hidup, lalu tiba-tiba cek gaji berhenti, sponsor menghilang,โ keluhnya. Tanpa perubahan sistem, siklus eksploitasi atlet diprediksi akan terus berulang, meninggalkan banyak mantan juara dalam kesulitan finansial dan mental.



