Gencatan Senjata Iran-AS Runtuh: Trump Lancarkan Serangan Baru, Harga Minyak Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Presiden Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berakhir setelah serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, lalu memerintahkan serangan udara baru yang menargetkan infrastruktur militer Iran.
- Serangan balasan Iran mengenai instalasi AS di Bahrain dan Kuwait, memicu kekhawatiran perang terbuka kembali dan mengganggu pasokan energi global.
- Pencabutan izin penjualan minyak Iran oleh AS dan ancaman Trump terhadap Pulau Kharg menambah ketidakpastian pasar minyak dunia.

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Rabu (9/7/2026), hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara telah berakhir. Langkah ini memicu kekhawatiran meluasnya kembali konflik berskala penuh di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Komando Pusat Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk "semakin menurunkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi" di Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan secara global melintasi selat tersebut. Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, radar, dan lebih dari 60 perahu kecil yang digunakan oleh Garda Revolusi Iran.
Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa lokasi, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas dan Sirik di selatan, serta Bushehr yang menjadi lokasi kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Teheran segera membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait. Kuwait mengaku berhasil mencegat dua rudal balistik dan 13 drone, meskipun serpihan rudal menyebabkan beberapa jaringan listrik putus.
Trump, yang sedang berada di pangkalan militer Inggris usai KTT NATO di Ankara, mengunggah video ledakan di Iran dan memberi peringatan keras. "Ini adalah pembalasan atas pemboman kapal oleh Iran kemarin. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!" tulisnya di media sosial. Meski demikian, ia sebelumnya menyatakan bahwa pertempuran terbaru tidak akan berujung pada aksi militer jangka panjang. "Apa pun yang terjadi akan berlangsung sangat cepat," ujarnya, seraya menambahkan bahwa militer AS mungkin akan "menyelesaikan pekerjaan".
Ketegangan ini bermula dari serangan Iran terhadap tiga kapal tanker di lepas pantai Oman pada Selasa (8/7/2026). Iran berdalih bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara memberinya hak untuk mengelola lalu lintas di selat tersebut. Namun, kapal-kapal yang diserang dilaporkan menggunakan rute dekat pantai Oman, bukan jalur yang ditentukan Teheran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga negosiator utama, bersikeras di media sosial: "Era intimidasi dan pemerasan sudah berakhir. Kami tidak akan menyerah."
Pernyataan Trump bahwa gencatan senjata "sudah berakhir" menambah ketidakpastian. Harga minyak langsung meroket setelah pidatonya. Analis memperkirakan konflik berkepanjangan tidak hanya akan mengganggu pasokan energi, tetapi juga berpotensi menyeret negara-negara Teluk lainnya ke dalam pusaran perang. Bagi Indonesia, sebagai importir minyak bersih, lonjakan harga minyak dunia akan menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan.
Diplomasi yang sempat diharapkan meredakan ketegangan kini berada di ujung tanduk. Negosiasi untuk kesepakatan permanen seharusnya dimulai setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada 28 Februari lalu. Namun, dengan saling serang yang terus berlanjut, prospek perdamaian semakin suram. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengecam pernyataan Trump sebagai "pengakuan kegagalan" kebijakan AS terhadap Iran.
Di sisi lain, AS mencabut izin yang memungkinkan Iran menjual minyak secara terbuka dengan dolar ASโsebuah kelonggaran dalam kesepakatan sementara. Langkah ini menutup satu-satunya celah bagi Teheran untuk mendapatkan devisa. Ancaman Trump untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, juga kembali mencuat. Pulau itu memasok 90% minyak ekspor Iran dan menjadi sasaran strategis yang dapat melumpuhkan ekonomi Iran.
Pertanyaannya kini: apakah eskalasi ini hanya taktik negosiasi Trump, atau awal dari perang terbuka yang akan mengubah peta geopolitik Timur Tengah? Dengan pasar energi yang sudah rentan, setiap langkah selanjutnya akan diawasi ketat oleh negara-negara konsumen, termasuk Indonesia.



