Blue Origin Buka Pintu Investor Eksternal untuk Pertama Kalinya, Target Valuasi Rp 2.000 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, Blue Origin, mengincar dana segar Rp 160 triliun dari investor luar dengan valuasi mencapai Rp 2.000 triliun.
- Langkah ini mengikuti kesuksesan IPO SpaceX yang mencatat valuasi Rp 28.000 triliun, memicu gelombang minat investor pada sektor antariksa.
- Blue Origin masih tertinggal jauh dari SpaceX dalam hal frekuensi peluncuran dan pendapatan, meski memiliki kontrak miliaran dolar dengan NASA.

Jeff Bezos akhirnya membuka pintu bagi investor eksternal untuk menanamkan modal di Blue Origin, perusahaan antariksa yang didirikannya pada September 2000. Dalam putaran pendanaan yang dilaporkan oleh NYT DealBook, Blue Origin menargetkan raihan dana sebesar US$10 miliar atau sekitar Rp 160 triliun, dengan valuasi perusahaan sebelum investasi mencapai US$130 miliar (Rp 2.000 triliun).
Coatue Management, sebuah perusahaan manajemen aset besar, disebut-sebut akan memimpin putaran ini dengan komitmen US$4 miliar. Sementara itu, Bezos sendiri berencana menyuntikkan tambahan dana sebesar US$2 miliar. Langkah ini menandai pertama kalinya Blue Origin mencari pendanaan dari pihak luar setelah selama lebih dari dua dekade mengandalkan kantong pribadi sang pendiri Amazon.
Keputusan Blue Origin untuk membuka diri kepada investor publik tidak terlepas dari geliat pasar antariksa global yang kian panas. SpaceX, pesaing utama Blue Origin, baru saja melantai di bursa dengan valuasi mencengangkan mencapai US$1,75 triliun (Rp 28.000 triliun) pada IPO terbesar dalam sejarah. Kesuksesan SpaceX itu telah mendorong minat investor terhadap perusahaan antariksa swasta lainnya, termasuk Blue Origin yang selama ini dianggap sebagai pemain nomor dua.
Meski sama-sama didirikan oleh miliarder teknologi, Blue Origin dan SpaceX memiliki perjalanan yang berbeda. Blue Origin, yang lahir 18 bulan sebelum SpaceX, lebih banyak mengandalkan kontrak pemerintah seperti program Artemis NASA dan misi keamanan nasional AS. Namun, dalam hal frekuensi peluncuran dan pendapatan, Blue Origin masih tertinggal jauh. SpaceX dengan layanan internet satelit Starlink-nya telah menjadi mesin uang yang besar, sementara Blue Origin masih fokus pada jasa peluncuran, mesin roket, dan program antariksa pemerintah.
Kendala teknis juga menghantui Blue Origin. Roket berat New Glenn milik perusahaan itu meledak saat uji statis di landasan peluncuran pada Mei lalu, menunda rencana komersialisasi. Blue Origin menargetkan bisa kembali meluncurkan roket tahun ini, namun persaingan dengan SpaceX yang sudah mapan menjadi tantangan berat.
Di tengah keterpurukan, Blue Origin mencoba mencari celah dengan merambah infrastruktur AI berbasis antariksa melalui Project Sunrise, sebuah konstelasi hingga 51.600 satelit yang dirancang untuk menjadi pusat data orbital. Langkah ini menempatkan Blue Origin bersaing langsung dengan ambisi serupa SpaceX. Namun, analis memperingatkan bahwa tantangan teknis dan biaya tinggi membuat komersialisasi AI di orbit baru akan terwujud dalam satu dekade ke depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan meningkatnya investasi di sektor antariksa, potensi kerja sama dengan perusahaan seperti Blue Origin atau SpaceX dalam hal peluncuran satelit atau riset antariksa bisa semakin terbuka. Namun, dominasi swasta AS juga bisa memperlebar kesenjangan akses teknologi antariksa bagi negara berkembang. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memanfaatkan momentum ini atau hanya akan menjadi penonton di era baru eksplorasi antariksa?



