Arthur Fery, Wildcard yang Mengguncang Wimbledon: Kisah Petenis Kaya Raya yang Tak Kenal Gengsi
Baca dalam 60 detik
- Arthur Fery menjadi petenis putra Inggris pertama yang lolos ke semifinal Wimbledon sebagai wildcard sejak era Open, mengalahkan unggulan kesembilan Flavio Cobolli.
- Fery, yang baru dua kali menang di main draw Grand Slam sebelumnya, akan naik ke peringkat 36 dunia dan mengantongi setidaknya ยฃ900.000.
- Lahir dari keluarga superkaya (estimasi kekayaan ยฃ275 juta), Fery justru dikenal rendah hati dan memilih jalur akademis di Stanford sebelum fokus ke tenis.

Seorang pemain wildcard asal Inggris, Arthur Fery, menorehkan sejarah di Wimbledon dengan melaju ke semifinal setelah mengalahkan unggulan kesembilan Flavio Cobolli dalam tiga set langsung. Kemenangan ini bukan hanya kejutan besar bagi dunia tenis, tetapi juga menjadi momen langka bagi Inggris yang haus akan prestasi di turnamen Grand Slam tertua itu.
Fery, yang baru berusia 23 tahun, bergabung dengan jajaran elit petenis wildcard yang pernah mencapai semifinal Grand Slam. Sebelumnya, hanya Jimmy Connors (US Open 1991), Henri Leconte (Prancis Terbuka 1992), dan Goran Ivanisevic (Wimbledon 2001) yang berhasil melakukannya. Dari ketiganya, hanya Ivanisevic yang akhirnya menjadi juara. Kini, Fery berpeluang mengikuti jejak sang legenda Kroasia jika mampu melewati Alexander Zverev, unggulan kedua asal Jerman, di semifinal Jumat nanti.
Kemenangan ini membawa dampak besar bagi karier Fery. Ia dipastikan naik ke peringkat 36 dunia, naik drastis dari posisi di luar 100 besar sebelum turnamen. Selain itu, ia mengantongi hadiah uang minimal ยฃ900.000, yang bisa bertambah jika ia mengalahkan Zverev. Namun, bagi Fery, uang bukanlah motivasi utama. "Saya tidak melihat hasil sebagai nilai moneter, tetapi sebagai hasil dari kerja keras bertahun-tahun," ujarnya kepada BBC Sport.
Fery lahir di Paris dari orang tua Prancis, tetapi keluarganya pindah ke Wimbledon saat ia masih kecil. Ayahnya, Loic, adalah seorang manajer aset yang pernah menjadi pemilik klub Ligue 1 Lorient, sementara ibunya, Olivia, adalah mantan pemain Fed Cup Prancis yang bekerja untuk LTA. Meski berasal dari keluarga superkaya, Fery dikenal rendah hati dan tidak pernah memamerkan kekayaannya. Pelatihnya, Jeroen Benard, menggambarkannya sebagai "pemuda normal berusia 23 tahun yang kebetulan sangat baik dalam olahraga".
Perjalanan Fery menuju puncak tidaklah mulus. Ia sempat mengalami cedera memar tulang di lengannya yang menyebabkan "keraguan dan masa-masa gelap". Namun, dengan kesabaran dan konsistensi, ia berhasil bangkit. Ketenangannya di lapangan terlihat jelas saat ia tidak gentar bermain di depan Roger Federer pada babak keempat, atau saat bertemu Ratu Camilla sebelum dan sesudah pertandingan melawan Cobolli. "Dia memberi selamat dan berkata 'teruslah berjuang'," kata Fery tentang pertemuan dengan Ratu.
Bagi Indonesia, kisah Fery memberikan pelajaran bahwa kesuksesan tidak selalu berasal dari latar belakang biasa. Namun, yang lebih penting adalah kerja keras, kesabaran, dan rendah hati. Fery juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bisa menjadi batu loncatan menuju karier olahraga profesional, sebuah model yang bisa ditiru oleh atlet-atlet Indonesia yang ingin mengembangkan karier tanpa meninggalkan pendidikan.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Fery mengalahkan Zverev dan melaju ke final? Jika ya, ia akan menjadi petenis wildcard pertama yang mencapai final Wimbledon sejak Ivanisevic, dan mungkin mengulang keajaiban yang sama. Atau akankah Zverev, yang baru saja menjuarai Prancis Terbuka, menghentikan lajunya? Semua akan terjawab di semifinal nanti.



