SambaNova Raup Dana Rp15,8 Triliun, Valuasi Tembus Rp176 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Startup chip AI SambaNova mengantongi pendanaan Seri F senilai US$1 miliar yang dipimpin General Atlantic, dengan valuasi pasca-pendanaan mencapai US$11 miliar.
- Pendanaan ini akan digunakan untuk memperluas kapasitas produksi chip, sistem, dan infrastruktur AI global, termasuk kemitraan dengan JPMorgan Chase untuk inferensi AI.
- Investasi Intel yang sebelumnya mencapai US$35 juta dan rencana tambahan US$15 juta menunjukkan ketertarikan raksasa semikonduktor pada teknologi SambaNova, meskipun negosiasi akuisisi sempat buntu.

SambaNova, perusahaan rintisan yang mengembangkan chip dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), berhasil mengamankan pendanaan Seri F senilai US$1 miliar atau setara Rp15,8 triliun. Putaran ini dipimpin oleh General Atlantic dan mendongkrak valuasi perusahaan menjadi US$11 miliar (Rp176 triliun) pasca-pendanaan. Langkah ini menegaskan posisi SambaNova sebagai salah satu pemain kunci di pasar chip AI yang kian kompetitif.
Perusahaan yang berbasis di Palo Alto, California, ini memproduksi chip khusus, sistem perangkat keras, dan layanan cloud yang dirancang untuk inferensiโproses di mana model AI merespons pertanyaan pengguna. Berbeda dengan pelatihan model yang membutuhkan daya komputasi besar, inferensi menuntut efisiensi tinggi dan latensi rendah, menjadikannya pasar yang strategis bagi adopsi AI di berbagai sektor.
Putaran Seri F ini juga melibatkan investor besar seperti Seligman Ventures, T. Rowe Price Associates, Capital Group, serta dana yang dikelola BlackRock, Intel Capital, dan Otoritas Investasi Qatar. Kehadiran investor-investor ini menunjukkan kepercayaan terhadap prospek SambaNova di tengah persaingan ketat dengan Nvidia dan AMD. Menurut analis industri, valuasi US$11 miliar mencerminkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan pasar inferensi AI yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan.
SambaNova berencana menggunakan dana segar ini untuk memperluas kapasitas produksi, meningkatkan skala penerapan di seluruh dunia, serta terus berinvestasi pada chip, sistem, perangkat lunak, dan infrastruktur AI terpadu. Perusahaan juga mengumumkan bahwa JPMorgan Chase telah memilihnya sebagai mitra infrastruktur inferensi, dengan menerapkan sistem SN40 dan SN50 untuk kebutuhan AI perbankan. Kemitraan ini menjadi bukti nyata adopsi teknologi SambaNova di sektor keuangan yang menuntut keandalan tinggi.
Sebelumnya, pada Februari lalu, SambaNova mengumpulkan US$350 juta untuk ekspansi chip SN50 dan menjalin kemitraan dengan Intel guna menyediakan solusi inferensi murah bagi perusahaan AI-native. Kemitraan itu mencakup investasi Intel sebesar US$35 juta, yang kemudian mendapat persetujuan antimonopoli AS pada Mei setelah negosiasi akuisisi antara kedua perusahaan mandek. Catatan Reuters pada April menunjukkan Intel berencana menambah investasi US$15 juta lagi, yang akan meningkatkan kepemilikan Intel di SambaNova menjadi 9 persen. Meski demikian, SambaNova belum mengonfirmasi besarnya saham Intel saat ini dan kontribusinya dalam putaran Seri F.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat adopsi AI di sektor perbankan dan layanan keuangan terus meningkat. Bank-bank nasional mulai mengintegrasikan AI untuk deteksi fraud, layanan pelanggan, dan analisis risiko. Teknologi inferensi yang efisien dapat menjadi katalis bagi transformasi digital di Indonesia, terutama dengan pertumbuhan startup AI lokal yang membutuhkan infrastruktur komputasi terjangkau. Kehadiran pemain seperti SambaNova yang menawarkan solusi khusus inferensi bisa membuka peluang kemitraan dengan perusahaan Indonesia, meskipun persaingan dengan Nvidia yang sudah mapan tetap menjadi tantangan.
Dalam putaran pendanaan sebelumnya pada April 2021, SambaNova mengumpulkan US$676 juta dari SoftBank Vision Fund 2 dengan valuasi lebih dari US$5 miliar. Kenaikan valuasi dua kali lipat dalam dua tahun menunjukkan pertumbuhan pesat perusahaan. Namun, pertanyaan tetap mengemuka: mampukah SambaNova mempertahankan momentum di tengah dominasi Nvidia dan agresivitas AMD? Atau justru kemitraan strategis dengan raksasa seperti Intel dan JPMorgan akan menjadi pembeda yang membawanya ke level berikutnya?



