Minyak Mentah Kembali Tembus US$80, Bursa Global Merah Darah: Trump Akhiri Gencatan Senjata dengan Iran
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent melonjak 8% ke US$80,12 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berakhir, memicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Bursa saham Eropa dan Asia anjlok: Paris dan Frankfurt turun lebih dari 2%, sementara Kospi Korea Selatan ambles 5% terdampak tekanan geopolitik dan aksi jual saham teknologi.
- Eskalasi konflik AS-Iran berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi, memperkuat dolar AS, dan memberi tekanan pada Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di atas US$80 per barel pada perdagangan Rabu (8/7), sementara bursa saham global kompak terperosok setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataan itu muncul setelah serangan rudal Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz—jalur vital yang sebelumnya mengangkut seperlima pasokan minyak dunia—memicu gelombang baru konflik bersenjata di Timur Tengah.
Dalam pidatonya di sela-sela KTT NATO di Turki, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata yang sempat meredakan ketegangan selama beberapa pekan terakhir sudah tidak berlaku lagi. Meski demikian, ia masih membuka peluang untuk perundingan lebih lanjut. Pasar bereaksi cepat: harga minyak Brent acuan internasional melesat 8% ke level US$80,12 per barel pada pukul 15.20 GMT, meski kemudian sedikit terkoreksi. Sementara itu, kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 7,7% menjadi US$75,83 per barel.
Potensi penutupan kembali Selat Hormuz—yang dikuasai Iran—langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham global. Indeks-indeks utama Eropa menjadi yang paling terpukul. Bursa Paris dan Frankfurt masing-masing ditutup turun lebih dari 2%, sedangkan London melemah 1,6%. Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,6% pada pertengahan sesi, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 1%. "Kembalinya ancaman perang antara AS dan Iran, atau setidaknya blokade baru oleh Teheran, telah mendorong gelombang aksi jual di pasar Eropa yang sangat terpapar pada kenaikan biaya energi," ujar Chris Beauchamp, analis pasar utama di platform investasi IG.
Kekhawatiran akan kembalinya konflik bersenjata juga menyeret bursa Asia ke zona merah. Indeks Kospi Korea Selatan—yang sebelumnya menjadi primadona kenaikan saham teknologi Asia—ambrol lebih dari 5% dan telah kehilangan lebih dari 20% nilainya sejak mencapai rekor tertinggi pada bulan lalu. Saham Samsung Electronics dan SK hynix masing-masing anjlok sekitar 6%, meskipun Samsung baru saja memproyeksikan lonjakan laba operasional kuartal kedua hingga 19 kali lipat berkat permintaan chip kecerdasan buatan (AI) yang kuat. "Investor ketakutan dalam beberapa pekan terakhir oleh kekhawatiran pengeluaran berlebihan di dunia AI dan valuasi yang terlalu mahal di sebagian sektor teknologi, sehingga memicu aksi ambil untung besar-besaran," kata Dan Coatsworth, kepala pasar di AJ Bell.
Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya seiring meningkatnya ekspektasi bahwa gangguan pasokan minyak Timur Tengah akan membuat inflasi tetap tinggi lebih lama dari perkiraan. Hal ini berpotensi memaksa Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS menjadi sinyal waspada: impor energi akan semakin mahal, sementara nilai tukar rupiah berpotensi tertekan. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap subsidi energi dan defisit anggaran, terutama jika konflik berkepanjangan mendorong harga minyak bertahan di atas US$80 per barel.
Analis memperingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik masih akan membayangi pasar dalam beberapa pekan ke depan. "Setelah paruh pertama tahun yang panjang dan penuh peristiwa, yang didominasi oleh perang AS-Israel melawan Iran serta sikap Trump yang plin-plan, hal terakhir yang dibutuhkan investor—dan semua orang—dengan liburan musim panas yang mendekat adalah kembalinya lingkungan geopolitik yang sama," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com. "Sayangnya, tampaknya kita akan kembali ke situasi itu." Pertanyaan besarnya kini: akankah diplomasi mampu meredam eskalasi, atau dunia akan kembali menyaksikan konflik terbuka yang mengguncang pasar energi dan keuangan global?



