Survei Kesehatan Nasional: Hanya 14,7% Lansia Malaysia Menua dengan Sehat
Baca dalam 60 detik
- Survei NHMS 2025 mengungkap hanya 14,7% lansia Malaysia memenuhi kriteria penuaan sehat, jauh dari harapan.
- Prevalensi demensia mencapai 10% pada lansia, dengan lonjakan signifikan setelah usia 80 tahun, sementara depresi memengaruhi 11,2%.
- Tanpa intervensi dini pada frailty, sarkopenia, dan isolasi sosial, beban perawatan kesehatan dan keluarga diprediksi membengkak seiring transisi Malaysia menuju negara berusia lanjut pada 2036.

Hanya satu dari enam warga senior Malaysia yang benar-benar menikmati masa tua berkualitas, sementara sisanya bergulat dengan berbagai gangguan fisik dan mental yang mengancam kemandirian mereka. Temuan mengejutkan ini berasal dari Survei Kesehatan dan Morbiditas Nasional (NHMS) 2025, yang memotret kondisi nyata 4,1 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas di negara jiran tersebut.
Dr. Tay Hui Sian, konsultan geriatri yang menulis analisis mendalam atas data NHMS, menggarisbawahi bahwa hanya 14,7% lansia Malaysia yang memenuhi kriteria penuaan sehat—sebuah angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan target menjadi negara berusia lanjut pada 2036. Kriteria tersebut mencakup fungsi fisik yang baik, kesehatan mental, kognisi, dukungan sosial, kemandirian, dan pengendalian penyakit kronis. “Banyak orang mengira sehat di usia tua berarti bebas dari penyakit berat, padahal penuaan sehat jauh lebih luas dari itu,” tulisnya.
Yang lebih memprihatinkan, penurunan kualitas penuaan terjadi sangat drastis seiring bertambahnya usia. Setelah usia 70 tahun, proporsi lansia yang menua dengan sehat merosot tajam, dan semakin rendah setelah usia 80 tahun. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar lansia Malaysia telah membawa faktor risiko sejak usia lebih muda, yang kemudian memburuk secara progresif.
Demensia menjadi salah satu ancaman terbesar. Survei menemukan satu dari sepuluh lansia Malaysia mengidap demensia, dan angkanya melonjak dramatis pada kelompok usia 80 tahun ke atas. Dr. Tay menekankan bahwa demensia bukan sekadar pikun biasa, melainkan kondisi serius yang memengaruhi daya ingat, penilaian, komunikasi, dan kemampuan berfungsi secara mandiri. Sayangnya, banyak kasus tidak terdiagnosis karena stigma atau anggapan bahwa lupa adalah hal wajar di usia tua. Infrastruktur layanan ramah demensia di Malaysia saat ini masih sangat terbatas, demikian pula sistem dukungan komunitas dan perawatan jangka panjang.
Depresi juga menjadi masalah yang kurang mendapat perhatian. NHMS melaporkan 11,2% lansia mengalami depresi, dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan. Gejala depresi pada lansia sering kali tidak khas—mereka mungkin mengeluh kelelahan, nyeri tubuh, atau gangguan tidur, bukan kesedihan secara langsung. Dr. Tay menyoroti interaksi berbahaya antara isolasi sosial, depresi, dan demensia yang saling memperkuat. Lansia yang tinggal sendiri dan terputus secara sosial berisiko lebih tinggi mengalami penurunan kognitif dan fungsional.
Selain masalah mental, survei juga mengungkap krisis fisik yang meluas. Sekitar 60% lansia berisiko mengalami frailty—sindrom medis di mana tubuh kehilangan ketahanan terhadap stresor seperti infeksi atau jatuh. Sekitar 11% sudah berada dalam kondisi frail. Terkait erat dengan frailty adalah sarkopenia, yaitu hilangnya massa dan kekuatan otot secara terkait usia, yang diderita lebih dari sepertiga lansia. “Banyak lansia terlalu fokus mengontrol gula darah atau kolesterol, tetapi mengabaikan kesehatan otot,” tulis Dr. Tay. Padahal, tanpa asupan protein dan olahraga teratur, kehilangan otot akan mempercepat penurunan mobilitas dan kemandirian.
Beban pengasuh juga menjadi sorotan. NHMS menemukan satu dari tiga pengasuh lansia dependen mengalami beban berat—baik secara fisik, emosional, finansial, maupun sosial. Dr. Tay memperingatkan bahwa tanpa sistem dukungan yang memadai, kelelahan pengasuh akan semakin umum seiring bertambahnya jumlah lansia dengan demensia, frailty, dan penyakit kronis. “Ini adalah masalah yang harus segera dipersiapkan Malaysia,” tegasnya.
Bagi Indonesia, temuan NHMS 2025 menjadi cermin yang relevan. Dengan populasi lansia yang juga tumbuh pesat—diperkirakan mencapai 20% pada 2045—Indonesia menghadapi tantangan serupa: rendahnya kesadaran akan penuaan sehat, terbatasnya layanan geriatri, dan minimnya dukungan bagi pengasuh. Tanpa intervensi dini yang terfokus pada pencegahan frailty, sarkopenia, dan isolasi sosial, beban sistem kesehatan dan keluarga diprediksi akan melonjak. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap belajar dari data Malaysia sebelum terlambat?



