Harga BBM Malaysia Kembali Stabil: Subsidi RON95 Tetap Rp6.400 per Liter
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia mempertahankan harga BBM bersubsidi dan nonsubsidi untuk periode 9-15 Juli, dengan RON95 bersubsidi di RM1,99 per liter.
- Kementerian Keuangan menyebut moderasi harga minyak global dan surplus pasokan jangka menengah sebagai faktor penahan kenaikan, meski risiko geopolitik masih mengintai.
- Kebijakan ini menjaga daya beli 14 juta penerima subsidi Budi95, namun tekanan fiskal tetap menjadi perhatian di tengah ketidakpastian harga minyak.

Pemerintah Malaysia kembali mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk periode 9 hingga 15 Juli 2026, dengan RON95 bersubsidi tetap di level RM1,99 per liter atau setara sekitar Rp6.400 per liter. Keputusan ini diambil di tengah moderasi harga minyak global yang dipengaruhi oleh meredanya premi risiko geopolitik dan pemulihan pasokan dari negara-negara produsen utama.
Kementerian Keuangan Malaysia, dalam pernyataan resmi pada Rabu (8/7), mengonfirmasi bahwa harga RON97 nonsubsidi masih bertahan di RM4,00 per liter, sementara RON95 nonsubsidi di Semenanjung Malaysia tetap RM3,37 per liter. Adapun solar di Semenanjung Malaysia dipatok RM3,97 per liter. Untuk wilayah Sabah, Sarawak, dan Labuan, harga solar bersubsidi tetap RM2,15 per liter.
Stabilitas harga ini menjadi kabar baik bagi lebih dari 14 juta penerima subsidi melalui program Budi95, yang menikmati RON95 seharga RM1,99 per liter. Selain itu, program Subsidi Diesel Budi Madani juga mempertahankan harga RM2,10 per liter bagi pemilik kendaraan diesel pribadi yang memenuhi syarat. Pemerintah juga melanjutkan subsidi melalui Sistem Kendali Petrol Bersubsidi (SKPS) di RM2,05 per liter dan Sistem Kendali Diesel Bersubsidi (SKDS) di RM2,15 per liter.
Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa tren penurunan harga minyak mentah global dalam sepekan terakhir didorong oleh berkurangnya premi risiko geopolitik, pemulihan arus pasokan, dan meningkatnya persaingan harga di antara produsen besar. Namun, mereka mengingatkan bahwa perkembangan di Asia Barat, termasuk serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran pada 7 Juli, menunjukkan risiko gangguan pasokan dan harga masih mengancam selama konflik belum terselesaikan.
Dalam jangka menengah, surplus pasokan global yang diperkirakan terjadi setelah pemulihan produksi dan moderasi permintaan diperkirakan akan membatasi kenaikan harga. Meski demikian, setiap gangguan baru pada jalur perdagangan utama dapat memicu volatilitas harga yang signifikan. Pemerintah Malaysia memastikan pasokan BBM nasional saat ini masih mencukupi, dan mengimbau masyarakat untuk menggunakan bahan bakar secara bijak melalui perencanaan perjalanan yang lebih efisien dan pengurangan perjalanan yang tidak perlu.
Bagi Indonesia, kebijakan harga BBM Malaysia ini relevan mengingat kedekatan geografis dan pola konsumsi energi yang serupa. Malaysia memilih untuk mempertahankan subsidi besar-besaran di tengah tekanan fiskal, sementara Indonesia telah beralih ke skema subsidi tertutup untuk sebagian jenis BBM. Perbedaan pendekatan ini mencerminkan prioritas masing-masing negara: Malaysia mengutamakan stabilitas harga dan daya beli masyarakat, sedangkan Indonesia mulai menekan kebocoran subsidi. Ke depannya, jika harga minyak global kembali melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, kedua negara akan menghadapi dilema serupa: menaikkan harga dan memicu inflasi, atau memperlebar defisit anggaran subsidi.



