Longsor Timpa Sekolah di Kamp Pengungsi Rohingya, Delapan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di Cox's Bazar menewaskan tujuh siswi dan seorang guru di pusat studi Islam, menjadikan jumlah korban jiwa akibat cuaca ekstrem di wilayah itu mencapai 16 orang sejak Minggu.
- Lebih dari satu juta pengungsi Rohingya tinggal di permukiman padat di perbukitan curam, kondisi yang diperparah oleh hujan monsun dan infrastruktur darurat yang rentan longsor.
- Peringatan dini cuaca ekstrem masih berlaku, sementara evakuasi warga dari zona rawan terus dilakukan di tengah kekhawatiran akan bertambahnya korban.

Tragedi kembali melanda Kamp Pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, setelah longsor menerjang sebuah sekolah putri pada Rabu (7/8) sore. Bencana itu menewaskan tujuh siswi dan seorang guru, serta melukai lima anak lainnya yang kini dirawat di rumah sakit.
Pusat studi Islam yang terletak di permukiman padat pengungsi itu tertimbun material lumpur dan puing saat hujan deras mengguyur kawasan pesisir sejak Minggu. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 13 orang dari reruntuhan, namun delapan di antaranya tak tertolong. "Korban berusia antara 7 hingga 12 tahun," ujar Panna Akhter, pejabat dist setempat, kepada BBC Bangla.
Longsor di Cox's Bazar bukan insiden tunggal. Sejak akhir pekan lalu, sedikitnya delapan pengungsi Rohingya lainnya—termasuk lima anak-anak—tewas akibat bencana serupa di permukiman yang sama. Total korban jiwa akibat cuaca ekstrem di wilayah itu kini mencapai 16 orang.
Kondisi geografis dan infrastruktur di kamp pengungsian menjadi faktor utama tingginya risiko bencana. Lebih dari satu juta etnis Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan militer Myanmar pada 2017 kini menghuni permukiman darurat di lereng bukit terjal. Rumah-rumah beratapkan terpal dan berdinding bambu itu sangat rentan terhadap longsor saat hujan deras. "Mereka hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan," kata Mohammed Mizanur Rahman, Komisioner Bantuan dan Repatriasi Pengungsi Bangladesh.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan kerentanan pengungsi dan pentingnya manajemen risiko bencana di permukiman padat. Meski Indonesia tidak memiliki kamp pengungsi sebesar Cox's Bazar, ancaman longsor di daerah perbukitan dengan pemukiman padat—seperti di beberapa wilayah Jawa Barat dan Sumatera—memiliki pola serupa. Kurangnya tata ruang yang memadai dan infrastruktur darurat kerap memperparah dampak bencana.
Pemerintah Bangladesh telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem dan memulai evakuasi warga dari zona berbahaya. Namun, dengan prakiraan hujan yang masih akan berlangsung beberapa hari ke depan, kekhawatiran akan bertambahnya korban jiwa masih membayangi. Pertanyaannya, seberapa cepat langkah mitigasi dapat dilakukan sebelum gelombang bencana berikutnya tiba?



