FIFA Tumpas Kekacauan Sepak Pojok: Premier League Ikut?
Baca dalam 60 detik
- Pierluigi Collina menerapkan toleransi nol terhadap pelanggaran di kotak penalti, mengubah wajah sepak pojok di Piala Dunia.
- Rata-rata gol dari sepak pojok turun drastis menjadi 0,34 per laga, jauh di bawah Premier League yang mencapai 0,49.
- Liga Inggris dihadapkan pada dilema: mengadopsi ketegasan FIFA atau mempertahankan fisik khasnya yang rawan kontroversi.

FIFA melalui kepala wasit Pierluigi Collina secara tegas mengubah pendekatan pengadilan sepak pojok di Piala Dunia, meninggalkan praktik saling tarik dan dorong yang sebelumnya dianggap sebagai "adegan perkelahian". Langkah ini langsung berdampak pada penurunan jumlah gol dari situasi bola mati, memicu pertanyaan apakah Premier League akan mengikuti jejak serupa.
Collina, sebelum turnamen, telah memperingatkan para pelatih bahwa wasit akan fokus pada aksi menghalangi dan memegang lawan di kotak penalti. Instruksi ini dijalankan dengan konsisten, termasuk melalui intervensi VAR yang menganulir gol Jerman dan Spanyol karena dianggap melanggar kiper. Mantan gelandang Jerman Thomas Hitzlsperger menilai pendekatan ini sebagai "kebalikan ekstrem" dari apa yang biasa terjadi di Premier League.
Data statistik mengonfirmasi perubahan signifikan. Rata-rata gol dari sepak pojok di Piala Dunia hanya 0,34 per pertandingan, sejajar dengan liga-liga top Eropa lainnya. Sebagai perbandingan, Premier League musim lalu mencatat 0,49 gol per laga dari situasi serupa, sementara Bundesliga dan Liga Champions masing-masing 0,46. Angka ini jauh di atas catatan Piala Dunia 2022 di Qatar yang hanya 0,20.
Kunci keberhasilan FIFA terletak pada persiapan intensif. Sebanyak 51 wasit dan 88 asisten ditempatkan di kamp pelatihan canggih di Miami, Florida. Mereka berlatih dengan pemain semi-profesional yang sengaja didrill untuk meniru pola permainan tim-tim nasional. Metode ini memungkinkan wasit merasakan langsung skenario pertandingan, bukan sekadar membaca laporan. Namun, format turnamen dengan 104 pertandingan dan tim yang hanya bermain sekitar empat laga memudahkan penerapan kebijakan ketat ini.
Premier League menghadapi dilema. Meski berjanji meningkatkan pengakuan terhadap aksi memegang yang jelas, sumber BBC Sport mengindikasikan wasit Liga Inggris tidak akan mengadopsi sikap keras ala FIFA. Mantan bek Chelsea Cesar Azpilicueta menilai ada "garis tengah" yang bisa dicari, mengingat fisik dan kontak adalah bagian dari identitas sepak bola Inggris. Pelatih Everton David Moyes sebelumnya mengeluhkan keengganan wasit untuk campur tangan dalam situasi sepak pojok.
Pertanyaan besarnya: apakah Piala Dunia menciptakan ekspektasi yang tidak realistis? Collina yakin ketegasan adalah satu-satunya cara untuk mengubah perilaku. Namun, Premier League tidak bisa begitu saja mengadili banyak penalti di awal musim karena akan menuai kritik media. Para pelatih pun akan terus mencari celah untuk mendapatkan keuntungan marginal. Liga Inggris harus menemukan keseimbangan antara membersihkan kekacauan dan mempertahankan esensi fisik permainan.



