Harga COE Mobil Kecil di Singapura Tembus Rekor Baru S$129.000, Imbas Pasokan Ketat
Baca dalam 60 detik
- COE kategori A untuk mobil berukuran kecil mencapai rekor S$129.000 pada lelang 8 Juli, melampaui rekor sebelumnya Oktober 2025.
- Kenaikan harga terjadi di semua kategori, dengan kendaraan niaga juga mencatat rekor S$95.000 akibat kuota terbatas dan jeda lelang tiga minggu.
- Fenomena ini menjadi cermin bagi pasar otomotif Indonesia yang juga menghadapi tekanan harga karena kebijakan pembatasan impor dan kuota.

Harga Sertifikat Hak Kepemilikan Kendaraan (COE) untuk mobil kategori A di Singapura menembus rekor baru sebesar S$129.000 (sekitar Rp1,5 miliar) pada lelang Rabu (8/7). Angka ini melampaui rekor sebelumnya S$128.105 yang tercatat pada Oktober 2025, menandai tren kenaikan harga yang terus berlanjut di negara kota tersebut.
Kenaikan terjadi merata di semua kategori. COE untuk mobil besar dan bertenaga tinggi (kategori B) naik 5,9% menjadi S$130.889 dari S$123.502. Sementara itu, kendaraan niaga seperti truk dan bus (kategori C) juga mencatat rekor S$95.000, naik 2,15% dari lelang sebelumnya. Motor pun ikut terdampak dengan harga S$10.201, sedikit meningkat dari S$9.989.
Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) menyebut kenaikan ini sudah diperkirakan karena jeda tiga minggu sejak lelang terakhir. Jumlah penawaran mencapai 4.950, sementara kuota hanya 3.214 COE, menciptakan rasio permintaan-pasokan yang timpang. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa harga akan terus bertahan tinggi dalam jangka pendek.
Kenaikan COE di Singapura menjadi pengingat bagi pasar otomotif Indonesia yang juga menghadapi tekanan serupa. Di Indonesia, kebijakan pembatasan impor mobil CBU dan kuota produksi dalam negeri membuat harga mobil baru terus merangkak naik. Meski tidak menggunakan sistem COE, mekanisme kuota dan pajak progresif di Indonesia menciptakan efek yang mirip: harga kendaraan menjadi semakin mahal, terutama untuk segmen menengah ke bawah.
Menurut analis otomotif dari Lembaga Studi Transportasi, kondisi Singapura menunjukkan bahwa ketika pasokan dibatasi secara artifisial sementara permintaan tetap tinggi, harga akan melonjak. Di Indonesia, situasi serupa terjadi pada mobil-mobil populer seperti Toyota Avanza atau Honda Brio yang kerap mengalami kenaikan harga setiap tahun akibat terbatasnya alokasi produksi dan tingginya biaya logistik.
Ke depan, LTA Singapura diperkirakan akan mempertahankan kebijakan kuota ketat untuk mengendalikan kemacetan, sehingga harga COE berpotensi tetap tinggi. Pertanyaannya, apakah Indonesia perlu mengadopsi sistem pembatasan yang lebih ketat seperti COE, atau justru mencari solusi lain seperti pengembangan transportasi massal yang lebih masif?



