Thailand Manfaatkan Gelombang Panas Eropa: Ekspor AC Melonjak, Turis Diburu
Baca dalam 60 detik
- Ekspor AC Thailand ke Eropa naik 41,3% pada Mei 2026, didorong oleh gelombang panas yang memicu permintaan pendingin ruangan.
- Thailand juga menggencarkan promosi wisata musim hujan ke Eropa, menawarkan diskon hotel dan keramaian lebih sedikit sebagai alternatif liburan.
- Fenomena ini mengindikasikan perubahan perilaku konsumen global di mana AC beralih dari barang mewah menjadi kebutuhan penyelamat jiwa.

Gelombang panas yang melanda Eropa membuka peluang ganda bagi Thailand: ekspor pendingin ruangan melonjak tajam sementara sektor pariwisata berburu wisatawan yang ingin menghindari suhu ekstrem. Negeri Gajah Putih itu mencatat lonjakan pengiriman AC ke Benua Biru sebesar 41,3 persen pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai nilai 130,1 juta dolar AS.
Data Kementerian Perdagangan Thailand menunjukkan total ekspor AC dalam lima bulan pertama tahun ini mencapai 696,8 juta dolar AS, tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Eropa kini menyumbang 18 persen dari total ekspor AC Thailand, menjadikannya pasar terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Jerman dan Prancis menjadi dua pembeli utama dengan pertumbuhan masing-masing 37,2 persen dan 13,9 persen pada periode Januari-Mei 2026.
Lonjakan ini terjadi di tengah kenyataan bahwa sebagian besar rumah di Eropa dirancang untuk menahan panas, bukan mengeluarkannya. Akibatnya, rumah tangga Eropa semakin rentan saat gelombang panas kian sering melanda. Jerman bahkan melaporkan kelangkaan AC portabel dan kipas angin setelah suhu melampaui normal musiman. Situasi ini mendorong perubahan perilaku konsumen, sebagaimana diungkapkan Nantapong Chiralerspong, Direktur Jenderal Kantor Kebijakan dan Strategi Perdagangan Kementerian Perdagangan Thailand. Menurutnya, AC tidak lagi dipandang sebagai barang mewah, melainkan sebagai alat penyelamat jiwa.
Di sisi lain, Otoritas Pariwisata Thailand meluncurkan kampanye untuk menarik wisatawan Eropa agar beralih dari liburan musim panas yang terik ke musim hujan Thailand yang lebih sejuk. Diskon tarif hotel dan janji keramaian yang lebih sedikit menjadi daya tarik utama. Langkah ini dinilai strategis karena pariwisata dan ekspor merupakan dua mesin utama ekonomi Thailand.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan gambaran tentang potensi ekspor produk pendingin ruangan ke pasar yang sedang tumbuh. Meski belum sebesar Thailand, Indonesia memiliki basis manufaktur elektronik yang bisa dikembangkan. Selain itu, perubahan iklim global yang memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia membuka peluang bagi negara tropis untuk menawarkan destinasi wisata alternatif. Namun, perlu diingat bahwa persaingan dengan China dan Meksiko di sektor AC sangat ketat.
Wakil Ketua Dewan Pengirim Nasional Thailand, Suparp Suwanpimolkul, menilai momentum ini sangat tepat bagi eksportir Thailand. Ia memperkirakan semakin banyak rumah tangga Eropa yang akan memasang AC seiring dengan semakin lazimnya cuaca ekstrem. Pertanyaannya, apakah Thailand mampu mempertahankan momentum ini di tengah persaingan global dan potensi perlambatan ekonomi Eropa?



