Haaland, Musiala, dan Olise: Deretan Bintang Piala Dunia yang ‘Hilang’ dari Skuad Inggris
Baca dalam 60 detik
- Setidaknya 11 pemain di Piala Dunia 2026 lahir atau besar di Inggris namun memilih membela negara lain, termasuk Erling Haaland yang lahir di Leeds.
- Dari 26 pemain Inggris saat ini, 20 di antaranya sebenarnya memenuhi syarat untuk negara lain, menunjukkan kompleksitas loyalitas sepak bola modern.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya pembinaan usia dini dan strategi naturalisasi untuk mempertahankan talenta diaspora.

Erling Haaland, mesin gol Manchester City yang menjadi momok bagi Inggris di perempat final Piala Dunia, bisa saja berseragam Three Lions andai ia memilih tanah kelahirannya, Leeds. Namun, ia bukan satu-satunya. Setidaknya ada sebelas pemain di turnamen ini yang lahir atau dibesarkan di Inggris tetapi memilih membela negara lain—sebuah ironi yang mengungkap dinamika identitas dan peluang dalam sepak bola global.
Dari kiper Swiss Marvin Keller yang lahir di London, hingga bintang Bayern Munich Jamal Musiala yang menghabiskan masa kecil di Inggris, mereka semua adalah talenta yang 'lolos' dari tangan Federasi Sepak Bola Inggris (FA). Bahkan, 20 dari 26 pemain dalam skuad Thomas Tuchel saat ini juga memenuhi syarat untuk negara lain, namun memilih setia pada Inggris. Ini menunjukkan bahwa batas-batas kewarganegaraan sepak bola semakin kabur, dipengaruhi oleh faktor keluarga, peluang karir, dan regulasi FIFA.
Fenomena ini bukan sekadar trivia. Bagi negara-negara seperti Indonesia, yang memiliki diaspora besar di Eropa, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Jika Inggris—dengan infrastruktur sepak bola terbaik dunia—saja kehilangan pemain sekaliber Haaland dan Musiala, bagaimana dengan negara yang sistem pembinaannya belum matang? Artinya, strategi naturalisasi harus diimbangi dengan pengembangan akar rumput yang kuat agar talenta muda tidak mudah 'direbut' negara lain.
Dari sisi teknis, keputusan para pemain ini seringkali pragmatis. Scott McTominay, yang lahir di Lancashire, memilih Skotlandia karena jalur ke tim utama Inggris terhalang. Aaron Wan-Bissaka beralih ke DR Congo setelah hanya sekali dipanggil Inggris tanpa dimainkan. Sementara Antonee Robinson, yang dibesarkan di Merseyside, memilih Amerika Serikat karena ayahnya warga negara AS. Pola yang sama terlihat pada Musiala: meski bermain bersama Jude Bellingham di level junior, peluang lebih cepat bersama Jerman membuatnya pindah haluan pada 2021.
Bagi Indonesia, pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya membangun hubungan emosional dan jalur karir yang jelas bagi pemain diaspora. Jika tidak, talenta seperti Mees Hilgers atau Rafael Struick—yang lahir di Belanda—bisa saja memilih negara lain. PSSI perlu meniru strategi negara seperti Maroko atau Senegal yang berhasil mempertahankan pemain keturunan melalui pendekatan personal dan program pembinaan yang terstruktur.
Ke depan, dengan globalisasi yang semakin intens, persaingan merebut pemain diaspora akan semakin ketat. Apakah Indonesia akan menjadi 'Inggris' yang kehilangan bintang, atau justru menjadi 'Norwegia' yang berhasil mempertahankan Haaland? Jawabannya tergantung pada seberapa serius pembinaan usia dini dan diplomasi sepak bola dilakukan.



