Skandal Pelecehan di Balik Layar: Fuji TV Minta Maaf Atas Insiden Aktor dan Lawan Main
Baca dalam 60 detik
- Fuji TV mengakui kelalaiannya dalam menangani keluhan aktris yang merasa dilecehkan oleh lawan mainnya, Jiro Sato, saat syuting drama.
- Insiden bermula dari ketidakkomunikasian batasan adegan fisik, yang berujung pada komentar kasar aktor pria di ruang ganti aktris.
- Stasiun TV Jepang itu kini menghadapi tekanan untuk memperbaiki protokol keselamatan kerja di industri hiburan.

Fuji Television Network Inc. secara resmi meminta maaf pada 7 Juli atas kegagalannya melindungi seorang aktris dari perilaku tidak pantas lawan mainnya, Jiro Sato, selama produksi drama terbaru mereka. Pengakuan ini muncul setelah majalah mingguan Shukan Bunshun mengungkap insiden yang membuat aktris tersebut menangis histeris di ruang ganti.
Dalam pernyataan tertulis, Fuji TV menyatakan penyesalan mendalam karena tidak mampu meminimalkan beban psikologis para pihak yang terlibat. "Kami seharusnya memastikan lingkungan yang aman bagi semua partisipan produksi," tulis mereka, seraya menambahkan bahwa situasi ini telah menimbulkan tekanan emosional besar bagi kedua aktor. Menariknya, stasiun TV itu enggan menyebutkan nama aktor atau judul drama yang dimaksud.
Kronologi kejadian bermula ketika tim aktris menyampaikan kekhawatiran tentang adegan kontak fisik sebelum syuting dimulai. Kesepakatan awal menyebutkan bahwa setiap masalah akan didiskusikan dan diatasi bersama. Namun, informasi tersebut tidak pernah disampaikan kepada aktor pria. Setelah Sato melakukan improvisasi adegan fisik, presiden agensi aktris meminta agar kekhawatiran itu dikomunikasikan kepadanyaโsebuah tugas yang akhirnya dijalankan oleh produser Fuji TV.
Puncak masalah terjadi pada 8 April, ketika Sato mendatangi ruang ganti aktris dan berkata, "Jika Anda mau membatasi kontak fisik dengan lawan main, sebaiknya Anda berhenti jadi aktor." Aktris itu dilaporkan sangat terpukul dan tidak bisa berhenti menangis. Fuji TV kemudian meminta pendapat pengacara eksternal, yang menilai tindakan Sato dapat dianggap pelecehan. Stasiun TV itu bahkan sempat mempertimbangkan penghentian produksi drama "Surname Confidential" (judul asli: "Fufu Bessei Deka") yang tayang dari April hingga Juni.
Kasus ini menyoroti celah dalam sistem perlindungan pekerja di industri hiburan Jepang, yang selama ini dikenal dengan budaya kerja keras dan hierarki ketat. Di Indonesia, insiden serupa pernah terjadi di beberapa rumah produksi, mendorong seruan untuk pembentukan kode etik yang lebih ketat. Pengamat media menilai bahwa tanpa mekanisme pelaporan yang aman dan transparan, kasus pelecehan di balik layar akan terus terulang.
Fuji TV sebelumnya mengaku telah memberikan peringatan keras kepada Sato dan mendorongnya untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah permintaan maaf dan peringatan cukup untuk mengubah budaya industri yang selama ini membiarkan ketidakseimbangan kekuasaan? Ataukah dibutuhkan regulasi yang lebih mengikat, seperti di Korea Selatan yang memberlakukan undang-undang anti-pelecehan di tempat kerja?



