Trump Batalkan Kesepakatan dengan Iran dan Hentikan Perdagangan dengan Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian dengan Iran batal total, menyebut negosiator Iran sebagai 'sampah'.
- Trump memerintahkan pemutusan hubungan dagang dengan Spanyol, menuduh Madrid sebagai mitra NATO yang tidak kooperatif.
- Keputusan ini berpotensi memicu ketidakstabilan harga minyak dan menggeser aliansi perdagangan global, termasuk dampak bagi Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi membatalkan nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditandatangani dengan Iran, dan secara bersamaan memerintahkan pemutusan seluruh hubungan perdagangan dengan Spanyol. Langkah kontroversial ini diumumkan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (12/3), menandai eskalasi baru dalam kebijakan luar negeri AS yang agresif.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa MoU dengan Iran sudah tidak berlaku lagi. "Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah," ujarnya kepada wartawan. Pernyataan ini menutup harapan akan adanya penyelesaian damai melalui jalur diplomasi, dan membuka kembali spekulasi tentang kemungkinan konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya Iran, Trump juga meluapkan kemarahannya kepada Spanyol. Ia menuduh Madrid sebagai mitra yang buruk dalam NATO karena tidak berkontribusi secara finansial maupun militer. "Spanyol adalah mitra yang mengerikan di NATO. Mereka tidak berpartisipasi, mereka tidak membayar. Saya tidak ingin ada urusan bisnis dengan Spanyol lagi," tegasnya. Trump langsung memerintahkan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk memutuskan semua perdagangan dengan Spanyol, termasuk kunjungan, tanpa penundaan.
Keputusan sepihak ini memicu kekhawatiran di kalangan analis internasional. Langkah Trump terhadap Iran dapat memicu kembali ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Sementara itu, pemutusan hubungan dagang dengan Spanyolโsalah satu ekonomi terbesar di Uni Eropaโberpotensi memicu perang dagang baru antara AS dan Eropa. Bagi Indonesia, situasi ini membawa risiko dan peluang. Kenaikan harga minyak akibat ketidakstabilan Timur Tengah dapat membebani APBN, namun di sisi lain, Indonesia bisa menjadi alternatif tujuan ekspor bagi negara-negara yang terkena sanksi AS.
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Yani, langkah Trump menunjukkan pola kebijakan luar negeri yang transaksional dan tidak konsisten. "Trump menggunakan NATO dan perjanjian internasional sebagai alat tekanan politik, bukan sebagai forum kerja sama. Ini berbahaya bagi stabilitas global," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia harus waspada terhadap dampak domino dari kebijakan ini, terutama terhadap harga komoditas dan arus investasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran maupun Spanyol. Namun, para diplomat di Ankara memperkirakan bahwa kedua negara akan merespons dengan keras. Pertanyaannya, akankah langkah Trump ini justru memperlemah posisi AS di kancah global, atau justru menjadi strategi untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi berikutnya?



