Air Mata Junior dan Princess: Kenangan Pahit Anak-anak Katie Price saat Sang Ibu Terjerat Narkoba
Baca dalam 60 detik
- Junior dan Princess Andre mengungkap masa kecil traumatis akibat kecanduan narkoba Katie Price yang membuat mereka harus mengurus diri sendiri sejak kecil.
- Dalam dokumenter Sky, kedua anak itu menangis saat mengenang momen ibunya pulang dalam pengaruh obat-obatan dan ketidakhadirannya di rumah.
- Kisah ini menjadi pengingat akan dampak jangka panjang penyalahgunaan zat pada anak, relevan dengan isu kesehatan mental dan keluarga di Indonesia.

Dua anak sulung Katie Price, Junior (20) dan Princess (19), menangis tersedu-sedu saat mengungkap masa kecil yang kelam akibat kebiasaan pesta dan kecanduan narkoba ibu mereka. Dalam dokumenter Sky bertajuk "Katie Price: Nothing to Hide", mereka menceritakan bagaimana sang mantan model glamor itu kerap meninggalkan mereka sendirian dan tak mampu mengasuh karena pengaruh obat-obatan.
Junior mengingat momen paling menakutkan saat ia terbangun pukul 03.30 dini hari dan melihat ibunya pulang dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Aku bisa lihat dari matanya, dia sedang dalam pengaruh sesuatu. Itu membuatku takut karena aku belum pernah melihat ibu seperti itu. Dia ada tapi tidak benar-benar ada," ujarnya. Ia menegaskan bahwa ibunya tidak bisa merawat mereka karena kecanduan narkoba.
Princess, yang saat itu masih kecil, mengaku sering merasa kesepian. Ia mendapat selimut yang disemprot parfum ibunya sebagai pengganti kehadiran sang ibu. "Sepulang sekolah, aku pulang dan merasa sangat sendirian. Aku biasa memeluk selimut itu dan menangis," kenangnya. Ia memilih tetap tinggal bersama ibunya dengan harapan bisa menunjukkan bahwa ia dan saudara-saudaranya ada untuk Katie, meskipun ibunya terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri.
Junior dan Princess adalah anak dari pernikahan Katie Price dengan penyanyi Peter Andre. Katie juga memiliki tiga anak lain: Harvey (24) dari hubungan sebelumnya, serta Jett (12) dan Bunny (10) dari mantan suami Kieran Hayler. Junior menceritakan bagaimana kakak-beradik itu saling menjaga, bahkan ia belajar memanaskan makanan di microwave untuk memberi makan keluarga. "Bukan berarti ibu tidak memberi kami makan, tapi dia selalu keluar," katanya.
Junior akhirnya memutuskan tinggal bersama ayahnya setelah merasa lelah dengan situasi di rumah. "Aku sadar ini lingkungan yang sangat tidak sehat dan aku harus keluar. Syukurlah ayahku stabil, karena di rumah itulah aku mendapatkan kewarasan kembali," ungkapnya. Ia sempat merasa tidak cukup berharga karena ibunya tidak kunjung berubah demi dirinya dan saudara-saudaranya.
Meski penuh luka, kedua anak itu kini mengaku telah memaafkan dan melihat perubahan positif pada Katie. Junior menyebut ibunya sebagai "permata spesial" dan merasa bangga karena Katie berhasil melepaskan diri dari narkoba. "Sekarang kami punya ibu kami kembali. Kami tahu dia gila, dan dia juga tahu itu. Kami mencintainya dan akan selalu ada untuknya," tutup Junior.
Kisah keluarga Price-Andre ini menjadi cermin bagi banyak keluarga di Indonesia yang menghadapi masalah serupa. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba tidak hanya merusak pengguna, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam pada anak-anak. Para ahli menekankan pentingnya intervensi dini dan dukungan psikologis bagi anak-anak dari orang tua dengan ketergantungan zat. Pertanyaannya, sudahkah sistem perlindungan anak di Indonesia cukup tanggap untuk menangani kasus-kasus seperti ini?



