Gracie Abrams: Makin Pendek Rambut, Makin Autentik Diri Saya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Gracie Abrams mengaku merasa semakin menjadi diri sendiri setiap kali memotong rambut lebih pendek, dari potongan bob hingga pixie cut.
- Dalam wawancara dengan Olivia Rodrigo, ia mengungkapkan bahwa perubahan gaya rambut dan busana mencerminkan perjalanan personal di balik album barunya.
- Album studio ketiga 'Daughter from Hell' yang akan rilis 17 Juli mengeksplorasi dinamika keluarganya dan refleksi tentang waktu bersama orang tercinta.

Gracie Abrams, penyanyi yang namanya melesat lewat lagu Close to You, mengaku semakin merasa autentik setiap kali ia memangkas rambut lebih pendek. Dalam perbincangan dengan Olivia Rodrigo untuk seri Countdown To Spotify, ia mengungkapkan bahwa perubahan penampilan—dari potongan bob hingga pixie cut yang ia debutkan di Paris Fashion Week Januari lalu—bukan sekadar gaya, melainkan cerminan pencarian jati diri di hadapan publik.
“Semakin saya memotong rambut, semakin saya merasa seperti diri sendiri,” ujar Gracie kepada Olivia. Ia menambahkan bahwa selama ini ia tidak pernah terlalu memikirkan aspek visual saat berkarya. “Segala hal di luar proses menulis lagu adalah bonus yang harus dipertimbangkan,” katanya. Bagi Gracie, transformasi rambut dan busana adalah bagian dari perjalanan emosional yang ia jalani, bukan sekadar strategi pemasaran.
Perubahan itu juga merambah ke selera fesyen. Gracie, yang dulu kerap tampil dengan gaun di atas panggung, kini mengaku ragu akan kembali mengenakan dress saat manggung. “Di dekade ini, segala sesuatu berubah cepat. Anda sedang mencari tahu siapa diri Anda di depan orang lain,” ujarnya sambil bercanda, “dan saya sudah tidak punya rambut tersisa untuk diikat pita!”
Di balik perubahan fisik itu, Gracie tengah bersiap meluncurkan album studio ketiganya, Daughter from Hell, pada 17 Juli. Judul yang provokatif itu bukan tanpa alasan. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah anak yang paling baik kepada orang tua saat tumbuh dewasa. “Saya sangat keras pada mereka. Ketika hubungan keluarga dipenuhi gesekan intens, Anda tidak pernah berpikir semuanya akan berbeda,” ungkapnya.
Namun, seiring bertambahnya usia, perspektif Gracie berubah. “Anda tidak pernah menyangka akan menginginkan sebanyak mungkin waktu bersama mereka. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya—mungkin zaman yang kita jalani dan begitu banyak penderitaan di dunia—tapi tidak ada dari kita yang tahu berapa lama kita akan berada di sini. Dan saya ingin menghabiskan sisa waktu saya bersama orang-orang yang saya cintai,” tuturnya penuh haru.
Refleksi Gracie tentang keluarga dan waktu menjadi benang merah album barunya. Ia berharap pendengar dapat merasakan kerentanan dan kejujuran yang ia tawarkan. “Saya memiliki banyak rasa sayang untuk masa-masa itu,” katanya, merujuk pada kenangan manis di tengah konflik.
Bagi penggemar musik di Indonesia, perjalanan Gracie Abrams bisa menjadi pengingat bahwa perubahan penampilan sering kali merupakan manifestasi dari perubahan batin. Di tengah industri musik yang kerap menuntut citra sempurna, sikap Gracie yang terus terang tentang proses pencarian jati diri patut diapresiasi. Akankah Daughter from Hell menjadi album yang paling personal dan berpengaruh baginya? Publik tentu menanti.



