IOC Coret Nordic Combined dari Olimpiade 2030, Warisan 100 Tahun Terhenti
Baca dalam 60 detik
- Komite Olimpiade Internasional (IOC) memutuskan menghapus nomor Nordic combined dari program Olimpiade Musim Dingin 2030 di Alpen Prancis, memicu protes dari Federasi Ski dan Snowboard Dunia (FIS).
- Keputusan ini mengakhiri tradisi 106 tahun cabang olahraga yang telah menjadi bagian dari setiap Olimpiade Musim Dingin sejak 1924, dengan alasan rendahnya popularitas global dan absennya nomor putri.
- Bagi Indonesia, langkah IOC ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi olahraga musim dingin dan potensi pengembangan atlet di negara tropis melalui program latihan di luar negeri.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) secara resmi mencoret nomor Nordic combined dari daftar cabang olahraga yang akan dipertandingkan pada Olimpiade Musim Dingin 2030 di Alpen Prancis. Keputusan yang diambil dalam rapat daring Komite Eksekutif IOC pada Selasa (8/7) itu langsung menuai reaksi keras dari Federasi Ski dan Snowboard Dunia (FIS), yang menyebut langkah tersebut sebagai penghapusan pilar sejarah Olimpiade.
Nordic combined, yang memadukan lompat ski dan ski lintas alam, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap Olimpiade Musim Dingin sejak edisi perdana di Chamonix, Prancis, pada 1924. Selama lebih dari satu abad, cabang ini melahirkan sejumlah atlet legendaris, termasuk dari Jepang yang meraih medali emas beregu pada 1992 dan 1994. Namun, IOC menilai popularitas global Nordic combined terus menurun, ditambah dengan ketiadaan nomor putri di panggung Olimpiade yang dianggap sebagai kelemahan struktural.
Presiden FIS Alexander Ospelt membantah anggapan tersebut. Dalam pernyataan resmi, ia menegaskan bahwa Nordic combined justru menunjukkan pertumbuhan yang jelas dan partisipasi internasional yang semakin luas dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di kalangan atlet putri. "Ini adalah keputusan yang sangat berat bagi FIS dan asosiasi ski nasional kami," ujar Ospelt. Meski demikian, IOC tetap pada pendiriannya dan memilih untuk mempertahankan nomor snowboard parallel giant slalom yang sempat terancam dicoret.
Di sisi lain, IOC juga mengambil langkah kontroversial dengan mencabut rekomendasi pembatasan atlet Rusia hanya boleh bertanding sebagai netral. Keputusan ini membuka peluang bagi Rusia untuk kembali berlaga di bawah bendera dan lagu kebangsaan mereka pada Olimpiade Los Angeles 2028. IOC bahkan mengembalikan sementara status keanggotaan Komite Olimpiade Rusia yang sebelumnya dibekukan akibat invasi ke Ukraina. Dalam pernyataannya, IOC menekankan bahwa atlet tidak boleh bertanggung jawab atas tindakan pemerintah mereka, dan perlunya memastikan akses setara ke kualifikasi Olimpiade yang sudah berjalan.
Bagi Indonesia, keputusan IOC ini menjadi cermin tentang pentingnya adaptasi dan diversifikasi dalam olahraga. Meskipun bukan negara dengan tradisi olahraga musim dingin, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan atlet di cabang-cabang baru seperti freeride ski dan snowboard yang kini masuk Olimpiade. Langkah IOC yang lebih inklusif terhadap Rusia juga mengingatkan bahwa politik dan olahraga kerap sulit dipisahkan, dan Indonesia perlu menyikapi dinamika ini dengan bijak dalam diplomasi olahraga regional.
Ke depan, FIS diperkirakan akan mengajukan banding atau mencari cara untuk mempertahankan Nordic combined di Olimpiade mendatang. Pertanyaan besarnya, mampukah cabang dengan sejarah panjang ini bertahan di tengah tekanan komersialisasi dan tuntutan popularitas yang semakin ketat? Atau justru langkah IOC ini akan memicu lahirnya format-format baru yang lebih relevan dengan generasi muda?



